
Nama : AHMAD SADALI
Lahir : Garut, Jawa Barat, 29 Juli 1924
Agama : Islam
Pendidikan : - HIS Boedi Prijaji, Garut (1938)
- MULO Pasoendan, Tasikmalaya (1941)
- AMS, Yogya (1945)
- Jurusan Seni Rupa FT UI Bandung (1948-1953)
- Iowa State University Department of Fine Arts, AS (1956-1957)
- Arts Teacher College, Columbia University, AS
- Art Student League, New York City, AS.
Karir : - Dosen ITB di Bandung (sejak 1953)
- Sekretaris Jurusan Seni Rupa ITB (1958)
- Ketua Jurusan Seni Rupa ITB (1962-1968)
- Dekan Arsitektur/Seni Rupa ITB (1968-1969)
Pembantu Rektor Urusan Kemasyarakatan ITB (1969-1976)
Kegiatan Lain : - Ketua Umum Yayasan Pembina Masjid Salman ITB
- Pelukis
- Anggota Penasihat Ikatan Ahli Desain Indonesia (IADI)
- Ketua Pusat Perhimpunan Kebudayaan Indonesia Prancis
Alamat Rumah : Jalan Bukit Dago Utara I/9, Bandung Telp: 81230
Alamat Kantor : Jalan Ganesha 10, Bandung Telp: 84252 pesawat 467
|
|
AHMAD SADALI
Ia sering melukis seusai salat subuh dan mengaji. Ketika mengaji itulah, yang acap mendapat ayat-ayat yang menggugah kalbu. "Langsung saya tuliskan ayat itu, untuk saya resapi dan ungkapkan kembali maknanya lewat lukisan," katanya. Ahmad Sadali, pelukis berusia setengah abad lebih dengan tubuh yang masih kukuh ini, merupakan satu di antara tiga tokoh seni rupa yang bergelar profesor di Indonesia. Dua yang lain: Prof. Drs. Edi Kartasubarna, dan Almarhum Prof. Soemardja.
Lukisan-lukisan Sadali seperti tidak habis-habisnya menjangkau kebesaran Ilahi, lewat bidang-bidang warna dan torehan emas -- warna keagungan. Kadang-kadang, ada misteri di dalamnya. Religius. "Sebelum menjadi apa-apa, kita harus Muslim lebih dulu," katanya.
Selain pelukis andalan, yang sudah puluhan kali berpameran di dalam dan luar negeri, Sadali dikenal pula sebagai penceramah agama. Di hari-hari besar umat Islam, misalnya Idulfitri, ia biasa diundang untuk berceramah oleh lembaga-lembaga masjid di pelbagai kota. Pencipta lambang dan pici HMI ini juga seorang organisator.Sadali juga pematung. Karyanya bisa dilihat, antara lain, di Gedung DPR Jakarta, Pusri Palembang, dan untuk Pavilyun Indonesia pada Expo '70 di Osaka, Jepang.
Sebagian orang pernah mengatakan, di Indonesia belum ada seni lukis modern. Sadali tidak menyetujui pendapat itu. Seni lukis Indonesia, katanya, "Sudah ada dan sedang berkembang. Hanya wujudnya jangan diharapkan recognizable seperti yang pernah dihidangkan sejarah. Karena manusia Indonesia sendiri terus berkembang."
Bersama kedua belas saudaranya, Sadali, anak ketujuh, tidak pernah mengalami kesulitan biaya menuntut ilmu. Ayahnya, Haji Muhammad Djamhari, tokoh Muhammadiyah di Garut, Jawa Barat, adalah pemilik kebun dan sawah, serta pengusaha percetakan dan saudagar batik.
Sadali menikah dengan Atikah, dan hanya punya seorang anak. Ia penggemar musik klasik, dan senang bertamasya.
UPDATE:
Ahmad Sadali meninggal di rumahnya pada pukul 04.30, 19 September 1987, diduga karena serangan jantung. Jenazah dikebumikan di makam keluarga Panyingkiran, Garut, pada hari itu juga.
|