
Nama : Aristides Katoppo
Lahir : Tomohon, 14 Maret 1938
Agama : Protestan
Pendidikan : - Jurusan Publisistik Fakultas Hukum dan Masyarakat UI, Jakarta
- The Leyland Standford Junior University (1973-1974)
- Harvard University Center for International Affairs (1974-1975)
Karir : - Asisten Koresponden New York Times (1957-1964)
- Redaktur Pelaksana Sinar Harapan (1968-1973)
- Asisten Pemimpin Umum Sinar Harapan (1975-1986)
- Direktur PT Sinar Kasih (sampai tahun 2000)
- Direktur Utama PT Pustaka Sinar Harapan (1984-Mei 2001)
- Presdir PT Sinar Harapan Persada
- Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Sinar Harapan
Kegiatan Lain : - Anggota Press Institute
- Dosen luar biasa pada FISIP UI
- Pengurus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (1995)
- Anggota Yayasan Palapa Nusantara
- Dewan Pengurus ISAI (sejak 1994)
- Pengurus Yayasan Sejati (1995)
- Dewan Pendiri Forum Demokrasi Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia
- Asosiasi Ketahanan dan Lingkungan Indonesia
Penghargaan : Bintang Mahaputra
Keluarga : Ayah : Elvianus Kotoppo
Ibu : P.A.S. Rumokoy
Istri : Sasmiyarsi Sasmoyo
Anak : 1. Judistira Katoppo
2. Baradita Katoppo
3. Gamala Virasa Katoppo
Alamat Rumah : Jalan Pejaten Barat 71, Jakarta 12510
Alamat Kantor : Jalan Fachrudin 6, Jakarta
|
|
Aristides Katoppo
Aristides Katoppo
DATANGNYA zaman reformasi mengembalikan Aristides dan harian Sinar Harapan yang dibredel pemerintah Orde Baru di tahun 1986. Ketika koran itu ditutup Aristides adalah asisten pemimpin umum Sinar Harapan. Koran yang dianggap penggantinya, Suara Pembaruan, menampung hampir seluruh wartawan dan karyawan Sinar Harapan €“bahkan logonya pun sama- kecuali Aristides (dan HG Rorimpandey, pemimpin umum).
Kini, bila Aristides berkeras menerbitkan kembali SH, antara lain ia ingin €œmengembalikan nama baik Sinar Harapan yang ditutup secara sewenang-wenang oleh rezim Soeharto.€ Apa pun alasannya, yang pasti, Tides €“demikian teman-teman dekatnya memanggilnya- punya hubungan sejarah yang erat dengan harian bermoto €œmemperjuangkan kemerdekaan, keadilan, kebenaran, dan perdamaian berdasarkan kasih€ itu. Ia ikut mendirikan Sinar Harapan di tahun 1961, setelah sekitar setahun menimba pengalaman sebagai wartawan di Pers Biro Indonesia di tahun 1957. Pada tahun 1968, Tides diangkat menjadi redaktur pelaksana SH sampai koran tersebut dibredel di tahun 1972 karena memberitakan anggaran belanja negara yang belum disahkan DPR.
Aristides, dianggap yang paling bertanggungjawab atas pemberitaan itu, diharuskan meninggalkan tanah air, minimal lima tahun. Tides memilih studi di Standford University, AS, karena cuacanya tidak terlalu dingin. Kemudian Tides pindah ke Harvard di Center for International Affairs. Kembali ke Indonesia, ia mengajar jurnalistik di Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Indonesia.
€œSebagai wartawan, mengerjakan segala sesuatu tidak boleh setengah hati. Dan sepenuh hati itu dilakukan bukan karena gaji besar, tapi karena rasa dedikasi,€ kata Tides mengenai kunci suksesnya.
Tides bersaudara sepuluh orang. Dua di antaranya, Henriette Marianne dan Yosie, dikenal sebagai novelis. Ayah mereka, Elvianus Katoppo, pejuang rakyat Minahasa dalam menentang Belanda.
Sejak kecil Aristides Katoppo iri pada abangnya yang bercita-cita jadi kapten kapal. Lau ia memilih bercita-cita jadi wartawan. Alasannya: €œDengan terjun ke pers, ia bisa sering bepergian, meliput macam-macam, banyak berjumpa dengan orang dan menemukan hal-hal baru.€
Pengalaman paling mengguncangkannya ketika ia menyaksikan musibah kelaparan di sebuah desa di Lombok, 1996. Sampai-sampai anak-anak di desa itu mengupas kulit pohon untuk dimakan. Lalu, yang meninggal di kubur begitu saja, langsung ditutup tanah, tanpa diupacarakan lagi.
Selain suka mengumpulkan berbagai benda seni, Tides senang kehidupan alam terbuka. Ia hobi mendaki gunung sejak usia muda, dari sekadar bukit-bukit kecil sampai gunung yang tinggi seperti Galunggung, Pangrango, Ciremai. Sampai-sampai Tides diangkat jadi anggota kehormatan Mapala Universitas Indonesia. Tides memang tipe orang lapangan: penampilannya santai, biasa mengenakan sandal jepit dan tas ransel.
|