
Nama : Anton Moedardo Moeliono
Lahir : Bandung, Jawa Barat, 21 Februari 1929
Agama : Katolik
Pendidikan : - Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1958)
- Universitas Cornell (M.A.), AS (1965)
- Pascasarjana di Rijks Universiteit Leiden, Belanda (1971-1972)
- Studi di East West Center dan Universitas Hawaii, AS (1977)
- Studi di Research School of Pacific Studies, Australian National University (1980)
- Fakultas Sastra UI (doktor ilmu sastra bidang sosiolinguistik), (1981)
Karir : - Direktur SMP Nasional (1952-1953)
- Asisten ahli Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1958-1960)
- Ketua Jurusan Sastra Indonesia FS UI (1960-1963)
- Kepala Bidang Perkamusan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Pusat Bahasa; 1960-1963)
- Pembantu Dekan I, FSUI (1965-1966)
- Penjabat Dekan FSUI (1966-1967)
- Ketua Komisi Istilah Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1966-1967)
- Ketua Panitia Ejaan Indonesia Pusat Bahasa (1966-1972)
- Ketua Lembaga Linguistik FSUI (1969-1977)
- Ketua Panitia Kerja Sama Kebahasaan Pusat Bahasa (1984-1989)
- Kepala Pusat Bahasa (1984-1989)
- Direktur Indonesian Linguistic Development Project (1988-1992)
- Ketua Program Pascasarjana Linguistik (1987-2000)
- Ketua Jurusan Sastra Jerman dan Belanda (1989-1990; 1992-1995)
- Lektor Kepala FS UI (1973-1984)
- Guru besar FS UI (1982)
- Profesor tamu di UGM (1988), Gothe Universitaet, Frankfurt (1990-1996), Katholieke Universiteit Brabant, Tilburg (1991), Program Pascasarjana IKIP Jakarta (1991-1996)
Kegiatan Lain : - Anggota Perintis dan Pendiri Yayasan Atma Jaya (1960)
- Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Atma Jaya Jakarta (1964-1970)
- Ketua Badan Harian Yayasan Atma Jaya (1967-1968)
- Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Pendidikan (1967-1970)
- Direktur Pusat Penelitian Atma Jaya (1974-1986; 1991-1994)
- Wakil Ketua Ikatan Sarjana Katolik (1959-1963)
- Wakil Ketua Ikatan Sarjana Sastra Indonesia (1961-1966)
- Anggota Linguistic Society of America (1965-2000)
- Wakil Ketua Masyarakat Linguistik Indonesia (1975-1979)
- Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (1984-1990)
- Penasihat Pengurus Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (1997-2000)
Karya : Buku : Ragam Bahasa di Irian Barat (1963); On Gramatical Categories in Indonesia (1964); Bahasa Indonesia dan Ragam-Ragamnya (1980), Kembara Bahasa (1989)
Penghargaan : - Satyalencana Karya Satya RI (1983)
- Ksatria Ordo Gregorius Magnus, Vatikan (1993)
- Doctor of Letters Honoris Causa, Melbourne University, (1995)
- Knight Officer Ordo Oranje-Nassau, Belanda (1996)
Keluarga : Ayah : R.M. Moeliono Prawirohardjo
Ibu : Maria Igno Tjitrosentono
Istri : Cecilia Soeparni Josowidagdo
Anak : Dua anak
Alamat Rumah : Jalan Kartanegara 51, Jakarta 12110
Telepon 7247281
Faksimile 72799539
|
|
Anton M. Moeliono
Kalau sudah berbicara tentang bahasa Indonesia, ahli bahasa Indonesia ini selalu bersungguh-sungguh €“ meskipun lawan bicaranya tidak seserius sang profesor. Umpamanya, ia bersedia melayani pertanyaan dari ibu-ibu rumah tangga, yang hanya iseng, di acara dialog interaktif di RRI, setiap Kamis siang. Di kalangan pers, ia dikenal sebagai pengamat bahasa koran yang cermat.
€œGaya bahasa di surat kabar itu tidak maju-maju juga, memakai kesalahan yang tidak masuk akal. Misalnya menggunakan istilah nomine menjadi nominator,€ kata Anton Moeliono seraya menyuruh membuka kamus dan menunjukkan perbedaan kedua istilah itu. Anton pun kerap protes kepada media tertentu agar mereka menuruti kaidah bahasa yang resmi dan sesuai dengan aturan. €œTapi, mereka malah marah,€ kata lelaki berperawakan gemuk ini.
Sejak kecil anak ketiga dari lima bersaudara itu hidup prihatin. Ayahnya, Moeliono, karyawan Perusahaan Jawatan Kereta Api (kini PT KAI) yang berpenghasilan rendah. Sambil belajar di SMP, ia berjualan sulaman dan kue buatan ibunya. Setelah lulus, ia magang pada sebuah bank swasta di kota kelahirannya, Bandung. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi dokter, namun keinginannya tak tercapai karena orangtuanya tak mampu membiayainya. Kecuali kalau ia bisa mendanainya sendiri, dan untuk itu ia harus mencari pekerjaan yang mampu mendukung pencapaian cita-citanya.
Tamat SMA, ia membaca iklan: dibutuhkan staf administrasi pada Fakultas Sastra dan Filsafat UI di Jakarta, yang akan dipekerjakan di bidang bahasa. Melamar dan diterima, ia pun berangkat ke Ibu Kota. Untungnya, sambil bekerja, Anton diberi kesempatan kuliah gratis di Jurusan Sastra Indonesia UI. Terpikat pada pelajaran bahasa dan budaya, cita-citanya menjadi dokter akhirnya terlupakan.
Untuk menambah uang saku, sambil kuliah sore hari, Anton mengajar di SMP Nasional di Jalan Kramat, Jakarta Pusat, yang murid-muridnya terdiri dari para pejuang yang baru turun dari pedalaman. Ia mengajar bahasa Inggris€”bahasa yang telah dipelajarinya sejak SMP, selain bahasa-bahasa Jerman, Prancis, dan Belanda. Di sekolah ini, Anton bahkan sempat menjadi direkturnya. Setelah lulus sarjana muda, ia mengambil studi perbandingan bahasa, antropologi, filsafat, dan bahasa Sunda, 1958. Baru dua tahun lulus, Anton diangkat menjadi ketua jurusan -- walau saat itu ia masih asisten ahli.
Dapat beasiswa dari USAID, Anton kuliah di Cornell University, Ithaca, AS, dan menggondol gelar Master of Arts in General Linguistics dalam waktu 13 bulan. Di negeri kaya itu, Anton rajin menabung dari sisa beasiswa, sehingga pulang ke Tanah Air dapat membawa oleh-oleh: mobil Fiat seharga US$ 450 yang ongkos angkutnya US$ 500.
Sejak awal menjadi pengajar di perguruan tinggi, kata Anton, €œSaya sudah membulatkan tekad pada satu ketika saya harus menjadi profesor.€ Filsafat hidupnya: ia ingin selalu mencapai keunggulan. Setahun setelah memperoleh gelar doktor dari UI pada 1981, ia dikukuhkan sebagai guru besar UI, kemudian menjadi profesor tamu di sejumlah perguruan tinggi ternama di dalam dan luar negeri. Selain itu, di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, ia pernah menjabat kepala. Anton rajin menulis karya ilmiah dan sejumlah buku.
€œAnak Indonesia yang belajar di luar negeri itu pintar-pintar,€ katanya. €œKembali ke Tanah Air, mereka merebut pekerjaan yang bagus-bagus, karena memiliki keunggulan berbahasa.€
Menikah dengan Cecilia Soeparni, lulusan Fakultas Hukum UI, ia ayah dua anak, dan kakek dari empat cucu. Menyukai musik klasik dan gamelan, serta menonton film. Senang pada keindahan, pengagum tokoh wayang Arjuna ini hobi mengumpulkan barang antik, baik dari luar negeri maupun dari Tanah Air sendiri. €œKeindahan, teknologi keris, keluarbiasaan empu-empu yang mampu menghasilkan barang dengan sarana dan alat yang sederhana dapat kita amati,€ kata penggemar keris ini. Di waktu luang, Anton biasa mengeluarkan keris, mengamatinya sambil memberinya minyak. €œBegitu indah, itu hasil kesenian Jawa bertingkat kelas dunia,€ ujarnya.
|