
Nama : ACHDIAT KARTA MIHARDJA
Lahir : Garut, Jawa Barat, 6 Maret 1911
Agama : Islam
Pendidikan : - HIS, Garut (1925)
- MULO, Bandung (1929)
- AMS Jurusan Sastra Timur, Solo (1932)
- Fakultas Sastra Jurusan Filsafat Barat UI, Jakarta (1948- 1950)
- Universitas Nasional, Australia, (1956)
Karir : - Kepala Jawatan Kebudayaan DKI Jakarta (1958-1961)
- Dosen UI (1959-1961)
- Lektor Kepala Universitas Nasional Australia, Canberra (1961- 1971)
- Penulis freelance (1971-sekarang)
Karya : - Antara lain: Atheis
- Keretakan dan Ketegangan
- Kesan dan Kenangan
- Debu Cinta Bertebaran
- Pembunuh dan Anjing Hitam
- Bentrokan dalam Asrama
- Pak Dullah in Extremis
- Polemik Kebudayaan
- Filsafat Dewasa Ini ; Jembatan San Luis Rey
- Sensasi di Puncak Nyiur
Alamat Rumah : 55 Millen Street, Hughes 2605, Canberra, Australia
|
|
ACHDIAT KARTA MIHARDJA
Peristiwa itu terjadi menjelang 1930. Achdiat baru saja lulus MULO. Ayahnya, pemegang buku pada sebuah perkebunan di Garut, melaporkan kepada majikannya yang Belanda tentang nilai ujian Achdiat yang layak dibanggakan. "Lalu, mau jadi apa anakmu itu?" tanya sang majikan. "Maunya jadi sarjana, seperti meester in de rechten," jawab Kosasih Kartamihardja, ayah tadi. "Mengapa tidak jadi tukang batu atau tukang kayu saja?" tukas sang majikan. "Itu 'kan lebih berguna untuk bangsamu?"
Sang ayah terluka pada hatinya. Dan Achdiat kemudian memang tidak jadi meester in de rechten, atau tukang batu, atau tukang kayu. Melainkan menjadi pengarang, yang pernah mengajar di sekolah Taman Siswa Jakarta dan di Universitas Nasional Australia (ANU), di Canberra.Dia memang bukan pengarang yang subur. Tetapi, "Tiada disangsikan lagi, ia seorang tokoh sastra Indonesia yang penting," kata Prof. Dr. A. Teeuw, pengamat dan komentator sastra Indonesia yang tekun. Pernah menjadi wartawan dan pegawai Balai Pustaka, setelah 1945 ia bergaul dengan Chairil Anwar di lingkungan orang-orang Republik, dan "Dari segi politik amat dekat kepada Sjahrir dan PSI," Teeuw menambahkan.
Belasan buku lahir dari tangannya, meliputi roman, kumpulan cerita pendek, sandiwara, terjemahan, bahkan renungan filsafat. Namun, yang paling termasyhur adalah roman Atheis, yang ditulis sekitar Mei 1948wFebruari 1949. Inilah roman pertama Indonesia sesudah Perang yang benar-benar menarik, "Suatu percobaan nyata untuk menghasilkan karya sastra bermutu," ujar seorang pengamat.
Di zaman riuh-rendah Orde Lama, Achdiat "menyingkirkan diri" ke Australia, dan untuk seterusnya bermukim di Canberra, sebagai pensiunan. Achdiat menikah dengan Suprati Noor, 1938, dan dikaruniai empat anak -- hanya satu yang kemudian tinggal di Indonesia. Penggemar banyak cabang olah raga, kini ia hanya melakukan jogging, "Olah raga yang tidak berbahaya untuk seekor kuda tua," katanya. Tetapi, ia juga sedang mengumpulkan tulisannya yang tersebar untuk dibukukan.
UPDATE:
Lama karya-karyanya tak hadir dalam khazanah susastra Indonesia, pada 1997, Achdiat menerbitkan Si Kabayan, Manusia Lucu, yang merupakan kumpulan cerita rakyat yang disusun secara acak. Sejak dia tidak lagi mengajarkan sastra Indonesia di universitas di Australia, perhatian dan pengamatannya kepada sastra dan pengarang-pengarang Indonesia agak berkurang.
|