
Nama : Anton Apriyantono
Lahir : Serang, 5 Oktober 1959
Agama : Islam
Pendidikan : Doktor Kimia Pangan dari University of Reading, Inggris.
Kegiatan Lain : Staf pengajar Institut Pertanian Bogor Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi
|
|
Anton Apriyantono
Dalam beberapa pekan terakhir, Anton Apriantono mungkin bisa masuk daftar orang tersibuk se-Indonesia. Menteri Pertanian ini sedang diuji kegesitan dan ketangguhannya dalam menangani isu flu burung yang sedang mewabah di Indonesia.
Sejak awal masa jabatannya, Anton sudah memetakan sejumlah isu penting dalam pembangunan pertanian sepanjang lima tahun ke depan. Di antaranya konversi lahan pertanian ke nonpertanian yang semakin cepat dan meluas, ancaman produk impor, wabah penyakit tanaman dan hewan, swasembada pangan, dan konflik kepentingan antara pusat dan daerah.
"Diperlukan suatu perubahan penting, yaitu agar pembangunan pertanian berpusat kepada manusianya," kata Anton usai serah terima jabatan dari Menteri Pertanian kabinet lalu, Bungaran Saragih.
Menurutnya, membangun sektor pertanian ke depan berarti menyejahterakan petani, peternak, pekebun, dan petani lainnya. Dengan demikian, sektor pertanian tidak semata-mata mengejar peningkatan produksi, tetapi yang lebih penting adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Anton menyatakan bahwa devisa yang disumbangkan oleh sektor pertanian saat ini baru mencapai USD 4 miliar per tahun. Sehingga Deptan menetapkan sasaran peningkatan terhadap kontribusi pendapatan devisa dari ekspor produk yang telah diolah.
Menteri €œTermiskin €œ
Ketika Presiden terpilih Susilo Bambang Yudoyono sedang merancang kabinet, nama Anton belum dikenal media massa. Sebelumnya sempat ada sejumlah nama yang sempat disebut-sebut sebagai calon menteri pertanian yaitu HS Dillon dan AH Mantjik. Publik sempat bertanya-tanya siapakah Anton?
Pria kelahiran Serang, Banten pada 5 Oktober 1959 itu, pun mengaku merasa kaget saat dirinya dipanggil melalui telepon oleh seseorang yang akhirnya diketahui adalah Letjen TNI (Pur) Sudi Silalahi.
"Saya diminta datang ke Cikeas saat sedang mengajar mahasiswa. Sewaktu ditelepon, disebutkan kalau bisa 30 menit sudah sampai di Cikeas. Saat itu saya cari-cari sopir tidak ketemu, ya akhirnya saya kendarai sendiri," kenang staf pengajar di Institut Pertanian Bogor di jurusan Teknologi Pangan dan Gizi.
Meski tanpa persiapan berarti, Anton tak cemas. Ketika bertemu SBY , Doktor Kimia Pangan dari University of Reading, Inggris sudah siap memaparkan tiga program pertanian, yakni masalah peningkatan ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan petani, dan peningkatan nilai tambah hasil pertanian.
Setelah dipanggil ke Cikeas, ada beberapa wartawan yang menuliskan sosok dirinya sebagai calon menteri yang sepatunya "paling bulukan".
"Memang sepatu inilah yang saya punyai, sehingga itu yang saya pakai ke Cikeas," ujarnya dengan senyum ramah. Meski sepatunya dijuluki bulukan, Anton tak tampak minder.
Ia memang sosok yang sederhana. Setelan jas dan sepatu untuk kepentingan formal pun tak banyak ia miliki. "Ya beginilah saya, memang mampunya bisa membeli di toko-toko umum di Pasar Bogor saja," katanya
Memang berdasarkan hasil pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Anton termasuk Menteri €œTermiskin€ di Kabinet Indonesia Bersatu.
"Saya memiliki harta tidak bergerak Rp 224.915.000. Harta bergerak berupa alat transportasi, peternakan dan perkebunan senilai Rp 95 juta. Harta lainnya, Rp 27.020.000. Giro Rp 42.000.950. Total harta kekayaan Rp 388.935.950," ujar Anton.
Di awal masa jabatan Anton menggunakan mobil dinas Mitsubishi Lancer. Tetapi kini dia sudah biasa meluncur di atas jip Nissan Terrano. Bermewah-mewah?
Nanti dulu. Anton punya alasan sendiri. Dia bercerita, pernah nyaris mengalami kecelakaan lalu lintas. Ketika itu, dia tengah melaju kencang di atas sedan Lancer di jalan tol. Tiba-tiba pecah ban. "Tapi saya maupun sopir selamat," katanya.
Kejadian itu menorehkan kesadaran dalam diri Anton bahwa mobil sekelas Lancer tak cukup aman. Karena itu, atas rekomendasi sang sopir, dia lantas memilih Terrano. Itu pun bukan khusus mendadak dibeli. Konon perencanaan membeli mobil dinas Terrano itu sudah lama, jadi bukan khusus untuk Anton saja.
Jika ternyata mobil dinas Terrano ini harus diganti lagi dengan kendaraan lain yang relatif lebih murah, Anton tak keberatan. Cuma dia merasa bahwa, mobil berkelas di bawah Terrano tak cukup menjamin keamanan dan kenyamanan. Sementara dia amat menyadari bahwa, sebagai menteri dia tentu acap dituntut bergerak gesit.
€œSaya butuh kendaraan yang mampu melaju kencang tanpa berisiko mengundang maut seperti pecah ban. Jadi tolong masalah ini dipahami,€ pinta Anton.
(feby indirani-pdat dari berbagai sumber)
|