
Nama : AMIR MOERTONO
Lahir : Kertosono, Jawa Timur, 7 Juli 1924
Agama : Islam
Pendidikan : - HIS (1939)
- HBS (kelas II, 1942)
- SMA (1945)
- Akademi Hukum Militer (Bc.Hk., 1957)
- Perguruan Tinggi Hukum Militer (S.H., 1963)
- Universitas Nasional Changchi, Taipei, Taiwan (Doktor, 1984)
Karir : - Komandan Kompi pada Divisi III, Surabaya
- Wakil Sekretaris Staf Teritorial MBAD, Surabaya
- Kepala Bagian III/Organisasi Personalia Staf AD, Yogyakarta
- Wakil Kepala Bagian I Brigade X Divisi III, Jawa Tengah
- Kasub Werhkreise 101 Divisi III Kota Yogyakarta
- Ketua Panitia Penyelesaian Tawanan Perang (semuanya dari 1945-1949)
- Karo Personalia SUAD III
- Penasihat Hukum Dirtop AD dan Ketua Tim Pemeriksa Peperpu (1950-1959)
- Ketua Seksi Aksi Pengerahan Massa Front Nasional Pembebasan Irian Barat (1960)
- Asisten Materiil Badan Pembina Potensi Karya SUAD V
- Kaikeh Dam VI/Siliwangi (1960-1961)
- Ketua Mahkamah Lapangan Mandala (1962)
- Wakil Sekretaris Urusan Karya SAB pada Direktur Pembinaan Karya dan Operasi Karya (1964-1968)
- Direktur Pembinaan Kakaryawanan/Sospol (1968)
- Asisten Pembinaan Sospol Hankam (1969)
- Ketua (1971-1973), kemudian Ketua Umum DPP Golkar (1973-1983)
- Wakil Ketua DPR/MPR RI (1982-sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Kebun Binatang V/2, Jakarta Pusat
Alamat Kantor : Gedung DPR/MPR RI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan
|
|
AMIR MOERTONO
Pidatonya sering berapi-api, ceplas-ceplos, terkadang mengagetkan. Di depan peserta Munas III Golkar, 1983, bekas Ketua umum DPP Golkar ini berkata, "Gading yang asli itu adalah gading yang retak. Jika ada manusia yang tak salah, itu bukan manusia." Amir Moertono meminta maaf atas kekurangannya selama memimpin Golkar. Setelah munas itu, tempatnya digantikan Sudharmono, S.H., Mensesneg.
Lulusan Perguruan Tinggi Hukum Militer (PTHM) ini berada di jajaran puncak Golkar sejak 1971. Sebagai Ketua DPP, ia pun menjabat Asbin Sospol Hankam. Pada 1983, Munas I Golkar di Surabaya mengangkatnya menjadi ketua umum, menggantikan Mayjen Sukowati almarhum. Lima tahun kemudian, Amir dipercaya kembali memegang jabatannya, hingga Munas III.
Golkar, menurut dia, dari waktu ke waktu semakin mantap. Itu bisa dilihat dari dukungan suara yang diperoleh Golkar dalam tiga kali pemilu, sejak 1971. "Memimpin Golkar, pertahanan jantung harus dobel, juga telinga dan mental," kesan bapak tiga anak, yang juga menjadi Wakil Ketua MPR itu.Amir menerima gelar doktor dalam ilmu hukum dari Universitas Changshi, Taipeh, Taiwan, 1984. Disertasinya berjudul Demokrasi Pancasila, dalam bahasa Inggris setebal 155 halaman, dan disalin ke dalam bahasa Cina. Disertasi itu sebenarnya bahan ceramah ilmiahnya di universitas tersebut, yang disusun sendiri selama tiga setengah bulan. "Yang saya baca di sana hanya 55 halaman saja," tutur Amir yang suka bergurau ini.
Amir, yang lahir di tengah keluarga yang taat beribadat, juga suka berdakwah. "Sebenarnya, saya bukan kiai, bukan juga ulama," kata Amir, yang suka berpeci dan punya koleksi peci aneka warna. Ia pernah membikin kejutan ketika berceramah bulan Ramadan di Lembaga Penerangan dan Laboratorium Islam Sunan Ampel, Surabaya. Hadirin tercengang tatkala Amir mengatakan, hanya ia sendiri yang tidak puasa. "Tapi shaum, sebab dalam Islam tidak disebutkan puasa," kilahnya waktu itu.
Di antara kegemarannya, politikus yang sudah haji ini senang mengendarai sepeda motor bertenaga besar. Ia punya dua BMW 500 cc, juga dua sepeda balap.
UPDATE:
Amir Moertono menjabat Wakil Ketua MPR periode 1982-1987.
Istrinya, Naniek Kusmani, meninggal dunia, 6 Februari 1998, di Rumah Sakit Medistra, Jakarta. Naniek meninggal mendadak akibat serangan stroke, saat menunggui suaminya yang menjalani perawatan, di rumah sakit tersebut.
|