A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Ananda Sukarlan




Nama :
Ananda Sukarlan

Lahir :
Jakarta, 10 Juni 1968

Pendidikan :
- SD Budi Mulia Jakarta (1980)
- SMP di Van Lith Jakarta (1983)
- SMA Kanisius Jakarta (1986)
- Belajar piano di Sekolah Musik Walter Hautzig di Harford, Connecticut, Amerika Serikat (tidak selesai)
- Fakultas Piano Koninklijk Conservatorium, Den Haag (S1; 1993), (S2; 1995)


Karir :
Komponis, Pianis

Penghargaan :
- Hadiah pertama €œNadia Boulanger€ €” Concours International d'Orleans (Orleans, Prancis, 1993) - Hadiah pertama €œXavier Montsalvatge€ €” Concurso de Musica del Siglo XX Xavier Montsalvatge, Ginora, Spanyol (1993) - Hadiah pertama €œBlanquefort Piano Competition€, Bordeaux, Prancis (1994) - Hadiah pertama dan hadiah khusus untuk The Best Interpreter of Spanish Music €œCity of Ferrol Piano Competition€, Galicia, Spanyol (1995) - Hadiah kedua €œSweelinck-Postbank€, Amsterdam, Belanda (1995) - Hadiah kedua €œVienna Modern Master Performers Recording Award (1996) - Hadiah ketiga €œFundacion Guerrero Competition€, Madrid, Spanyol (1995) - Nominee Unesco Prize (2001)

Keluarga :
- Istri : Raquel Gomez - Anak : Alicia Pirena Sukarlan

Alamat Rumah :
Cantabria, Spanyol

 

Ananda Sukarlan
Ananda Sukarlan

KETIKA masih kecil, pianis Ananda Sukarlan suka membaca cerita fiksi ilmiah Flash Gordon. Di dalamnya ada cerita tentang cinta, tragedi, pengkhianatan, dan orang yang haus kekuasaan, serta tentang korupsi. Cerita itu telah mengilhami Ananda, dan membuatnya terobsesi, untuk menggubah Flash Gordon dalam bentuk opera.

Dalam lakon yang ia rencanakan itu, penyanyinya tidak perlu akting dan ia akan menggunakan televisi dan sinar laser, dengan panggung canggih, dan diharapkan rampung sepuluh tahun lagi. Ya, sepuluh tahun lagi, mengingat jadwalnya padat sekali. Untuk itu ia sendiri yang menulis libretonya. €œIni memang proyek idealis,€ tutur Ananda.

Ananda Sukarlan, yang biasa dipanggil Andy, adalah pianis Indonesia yang telah berkiprah di dunia internasional. Setelah lulus S2 dengan predikat summa cum laude dari Fakultas Piano Koninklijk Conservatorium, Den Haag, Belanda, gerbang karirnya terbuka lebar. Pada 1988, di Amsterdam, Andy meraih Eduard Elipse Award dalam Kompetisi Musik Nasional Belanda. Pada 1993 ia membuktikan diri sebagai pianis unggul di Nadia Boulanger Prize. Ia pun pentas di gedung-gedung konser bergengsi di Eropa. Berbagai penghargaan yang ia terima di Prancis, Spanyol, dan Belanda kian memantapkan karirnya di papan atas pianis dunia.

Terakhir, dialah satu-satunya musisi Indonesia yang masuk dalam The International Who's Who in Music dan 2000 Outstanding Musicians on the 20th Century. Kenapa memilih berkarir di luar negeri, Eropa khususnya? €œKalau di luar negeri, saya lebih berguna buat orang Indonesia. Karena saya memainkan karya komponis Indonesia di sana.€ Di luar negeri ia juga memperoleh penghargaan materi yang setimpal dengan pretasinya.

Bungsu dari tujuh bersaudara ini mengaku kecemplung ke dunia musik secara tak sengaja. Ia lahir dan tumbuh bukan di keluarga pemusik. Ayahnya tentara dan ibunya dosen IKIP. Kakak-kakaknya pun tidak ada yang jadi seniman. Ketika kanak-kanak, dalam benak Andy sempat terlintas cita-cita ingin jadi pemadam kebakaran. Tapi, karena sering mendengarkan kakaknya, Martani Widjajanti, main piano, ia pun jadi suka. Andy kecil juga suka mendengarkan musik klasik dari piringan hitam teman orangtuanya yang pulang ke Belanda. Andy pertama kali belajar piano pada kakaknya itu.

Waktu SMP, keinginan jadi pianis makin kuat. Untuk itu ia ikut les piano dan sering menonton konser di Erasmus Huis, Taman Ismail Marzuki, dan hotel-hotel. Karena nilainya tak cukup untuk kenaikan kelas, ia drop out. €œBiasanya kalau orang digituin putus asa, apalagi diledekin oleh teman-teman agar jualan martabak saja. Tapi karena senang piano, saya tetap saja jalan,€ kata Andy. Tahun berikutnya ia ikut tes dan gagal. Tahun berikutnya lagi, ia mencoba ikut tes dan gagal lagi. Pokoknya ia bertekad ingin bermusik saja, sehingga banyak mata pelajaran yang lain jeblok. €œSaya tidak pernah memikirkan saya berbakat atau tidak. Saya kira kalau kita ingin sesuatu jalani saja, pasti nanti Tuhan membantu,€ ujar Andy.

Piano Petrof, sebuah lembaga yang memberikan beasiswa untuk anak-anak berbakat, memberikan beasiswa sekolah musik di Sekolah Musik Walter Hautzig di Harford, Connecticut, Amerika Serikat, untuk satu semester. Pulang ke Tanah Air, karena beasiswa terputus, Andy menemui Fuad Hasan, menteri P & K saat itu yang tengah menjalin kerja sama dengan Belanda. Atas informasi dari Fuad Hasan bahwa Belanda memberikan beasiswa, Andy ikut tes dan lolos.

€œKeberadaan di Belanda menjadi blessing, karena di Eropa negaranya banyak, sehingga karir saya bisa lebih terbuka,€ ujarnya. Kuliah di Belanda bukan tanpa cobaan. Pada 1993 hubungan Indonesia dengan Belanda terputus, akibatnya beasiswa pun terputus. Ia kehabisan uang, pernah makan nasi dengan kecap selama berbulan-bulan, dan utangnya sangat banyak. €œTetapi saya tidak mau menyerah.€ Ia ikut kompetisi, antara lain, di Nadia Boulanger Prize. Dan Andy menang. €œSebab jika tidak menang, saya tidak makan,€ kenangnya. €œAwalnya hanya untuk survive. Jika menang, uangnya sudah cukup untuk hidup sampai delapan bulan,€ ujarnya lagi.

Setelah kemenangan itu, paling tidak ia beroleh kontrak 40 konser di Eropa. Dan dengan demikian ia kenal komponis besar Inggris, Sir Michael Tippet, kenal manager dan bikin CD. Utang-utangnya pun terbayar.

Pada 1998 ia pindah ke Spanyol, tinggal di kawasan pegunungan Spanyol utara, bersama istrinya, Raquel Gomez, wanita berkebangsaan Spanyol. Raquel adalah mantan asistennya ketika konser di Spanyol. Pasangan ini melahirkan Alicia. Keluarga musisi ini menikmati hidup di rumah berhalaman luas, yang dirawat sendiri. €œSaya senang berkebun dan berenang,€ kata Andy.

Andy banyak membaca karya sastra dan kini menggemari sastra dari Amerika Latin dan Spanyol, seperti Jorge Luis Borges atau Gabriel Garcia Marquest. €œDari situ kadang-kadang mendapat inspirasi,€ katanya. €œKadang-kadang saya bikin lagu yang kata-katanya dari puisi Whitman,€ ujar pengagum tokoh musik Lenock Berstain dan Stravinsky ini.

Andy prihatin dengan kondisi musik di Tanah Air. €œParah sekali. Perlu perhatian dari pemerintah. Semua musik kita buruk, termasuk industri musik pop. Suasananya tidak berkembang. Tidak ada pemusik kita yang idealis. Dulu, musik pop 1970-an juga untuk industri, tapi tetap dibuat dengan komposisi dan harmonisasi yang baik,€ kata Andy.

Tahun ini ia merencanakan main dengan pemusik Gilang Ramadhan dan membuat pertunjukan dengan penari Sardono W. Kusomo di London. Selain itu, jadwal Andy juga diisi dengan main bersama Twilight Orcestra.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


A. MATTULADA | A. SULASIKIN MURPRATOMO | ABDOEL RAOEF SOEHOED | ABDUL AZIS LAMADJIDO | ABDUL DJALIL PIROUS | ABDUL GAFAR ABDULLAH (EBIET G. ADE) | ABDUL GAFUR TENGKU IDRIS | ABDUL KADIR | ABDUL KARIM OEY | ARBI SANIT | ARDIANSYAH | ANWAR NASUTION | ARIEF BUDIMAN | ARIFIN CHAIRIN NOER | ANTON SOEDJARWO | ARIFIN M. SIREGAR | AMRI YAHYA | ARISTIDES KATOPPO | AMIRMACHMUD | ARSWENDO ATMOWILOTO | AMIR MOERTONO | AWALUDDIN DJAMIN | AZWAR ANAS | ALI SADIKIN | AHMAD SYAFII MAARIF | AHMAD SADALI | ACHDIAT KARTA MIHARDJA | ABDULLAH PUTEH | ABDULGANI | ABDUL RACHMAN RAMLY | ABDUL QADIR DJAELANI | ABDUL LATIEF | A. Deni Daruri | A.T. Mahmud | Abdul Hakim Garuda Nusantara | Abdul Mun'im Idries | Abdullah Gymnastiar | Ade Armando | Ade Rai | Afan Gaffar | Agnes Monica | Agum Gumelar | Ahmad Syafi'i Ma'arif | Alfons Taryadi | Amir Syamsuddin | Amiruddin Zakaria | Amri Yahya | Amrozi | Anand Krishna | Ananda Sukarlan | Anang Supena | Andrianus Meliala | Andy F. Noya | Anton Bachrul Alam | Anton M. Moeliono | Apong Herlina | Arbi Sanit | Aria Kusumadewa | Arifin Panigoro | Aristides Katoppo | Arjatmo Tjokronegoro | Arswendo Atmowiloto | Arwin Rasyid | Asikin Hanafiah | Atmakusumah Astraatmadja | August Parengkuan | Ayu Azhari | Ayu Utami | Azyumardi Azra | Anwar Nasution | Arief Budiman | Abdul Rahman Saleh | Anton Apriyantono | Adyaksa Dault


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq