A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

ARIFIN CHAIRIN NOER




Nama :
ARIFIN CHAIRIN NOER

Lahir :
Cirebon, Jawa Barat, 10 Maret 1941

Agama :
Islam

Pendidikan :
- SD Taman Siswa, Cirebon
- SMP Muhammadiyah, Cirebon
- SMA Negeri Cirebon (tidak selesai)
- SMA Jurnalistik, Solo
- Fakultas Sosial Politik Universitas Cokroaminoto, Yogyakarta (1967)
- International Writing Program, Universitas Iowa, AS (1972)


Karir :
 Manajer Personalia Yayasan Dana Bantuan Haji Indonesia
 Wartawan Harian Pelopor Baru
 Sutradara Teater Muslim (1962)
 Anggota Studi Grup Drama Yogyakarta (1962)
- Pendiri dan pemimpin Teater Kecil (1968-sekarang)
- Kepala Humas Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972)
- Penulis skenario film (1971-sekarang)
- Sutradara film (1977-sekarang). Lakon dramanya antara lain, Kapai-Kapai (1970), Tengul (1973), Madekur dan Tarkeni (1974), Orkes Madun (1974), Umang-Umang (1976), Sandek Pemuda Pekerja (1979). Skenario filmnya antara lain: Pemberang (1971), Rio Anakku (Skenario Terbaik FFI 1973), Melawan Badai (Skenario Terbaik FFI 1974), Senyum di Pagi Bulan Desember (1974), Kugapai Cintamu (1976), Kembang-Kembang Plastik (1977). Film garapannya antara lain: Suci sang Primadona (1977), Harmonikaku (1979), Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa (1980), Serangan Fajar (1981), Pengkhianatan G-30-S/PKI (1982), Matahari-Matahari (1985)


Alamat Rumah :
Jalan H. Saidi Guru 1 B, Blok A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

 

ARIFIN CHAIRIN NOER


Di antara delapan bersaudara, Arifin mengaku berparas paling jelek. Anak kedua Mohammad Adnan, penjual sate keturunan kiai, ini menggeluti kegiatan puisi dan teater sejak di SMP. Bersekolah di Yogyakarta, ia bergabung dengan Lingkaran Drama Rendra, dan menjadi anggota Himpunan Sastrawan Surakarta.
Sajak pertamanya, Langgar Purwodiningratan, mengenai masjid tempat ia bertafakur. Naskahnya Lampu Neon, atau Nenek Tercinta, memenangkan sayembara Teater Muslim, 1967. Ia kemudian bergabung dengan kelompok teater tersebut.
Setahun kemudian, selesai kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Cokroaminoto, ia pindah ke Jakarta. "Dengan keyakinan ana awan ana pangan," katanya. Ia lalu mendirikan Teater Kecil, dan berhasil mementaskan cerita, dongeng, yang seperti bernyanyi. Tentang orang-orang yang terempas, pencopet, pelacur, orang-orang kolong, dan sebagainya. Mencuatkan protes sosial yang transendental, tetapi kocak, dan religius.
Teaternya akrab dengan publik. Ia memasukkan unsur-unsur lenong, stambul, boneka (marionet), wayang kulit maupun golek, dan melodi pesisir. "Arifin adalah pembela kaum miskin," komentar Penyair Taufiq Ismail, seusai pementasan Interogasi, 1984. Ia sendiri santai berkata, "Saya hidup di dunia kelam, dekat dengan kejelataan, dan musik dangdut."
Lakon-lakonnya antara lain: Kapai-Kapai (1970), Tengul (1973), Madekur dan Tarkeni (1974), Umang-Umang (1976), dan Sandek Pemuda Pekerja (1979). Lakon Kapai-Kapai dimainkan orang dalam bahasa Inggris dan Belanda di AS, Belgia, dan Australia. Pada 1984, ia menulis lakon Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi.
Lewat film Pemberang, ia dinyatakan sebagai penulis skenario terbaik di Festival Film Asia 1972, dan mendapat piala The Golden Harvest. Pada tahun itu, "Peransi, pembuat film dokumenter, memperkenalkan film sebagai media ekspresi kepada saya," tuturnya. Arifin kembali tampil sebagai penulis skenario terbaik untuk Rio Anakku, dan Melawan Badai dalam Festival Film Indonesia 1978. Ia meraih Piala Citra.
Mengaku otodidak di bidang sinematografi, ia mulai menyentuh kamera ketika Wim Umboh membuat film Kugapai Cintamu, 1976. "Banyak menyutradarai teater, ternyata, merupakan dasar yang sangat perlu untuk film," ceritanya.
Penulis skenario dan sutradara, Arifin sering disebut sebagai sutradara termahal. Masih menghuni rumah kontrakan di Jalan Rawa Raya, Pisangan, Jakarta Timur, kendaraannya Mitsubishi Lancer berwarna putih. "Kasihan terhadap diri saya sendiri," ujarnya. "Orang sering menuding saya orang kaya."
Film perdananya Suci Sang Primadona (1977), melahirkan pendatang baru: Joice Erna, yang memenangkan Piala Citra sebagai Aktris Terbaik FFI 1978. Film ini, menurut Volker Schloendorf -- sutradara Die Blechtrommel, pemenang Palme d'oro Festival Cannes 1979 -- dari Jerman, "Menampilkan sosok wajah rakyat Indonesia tanpa bedak. Arifin cermat mengamati tempatnya berpijak."
Menyusul film-filmnya: Petualang-Petualang, Harmonikaku, dan Yuyun, Pasien Rumah Sakit Jiwa, juga Matahari-Matahari. Belakangan, Serangan Fajar dinilai FFI 1982 sebagai Film Terbaik. Sedang Pengkhianatan G-30-S/PKI, filmnya terlaris yang dijuluki superinfra box-office. Lewat film ini lagi-lagi Arifin meraih Piala Citra sebagai Penulis Skenario Terbaik, 1985.
Dengan Nurul Aini, istrinya pertama, Arifin dikaruniai dua anak. Pasangan ini bercerai pada 1979, dan Arifin menikah lagi dengan Jajang Pamontjak -- putri tunggal dubes RI pertama di Prancis dan Filipina -- yang memberinya pula dua anak. Cita- citanya yang hingga kini belum terlaksana, "Menyusun hasil pemikiran dan penemuan dalam sebuah buku," katanya.
UPDATE:

Setelah melewati 1986, Arifin menggarap film Djakarta '66 (1989). Setahun kemudian, filmnya Taksi pada FFI 1990, terpilih sebagai film terbaik, meraih enam piala citra.

Arifin, yang sebelumnya pernah menjalani operasi kanker di Singapura, sejak 23 Mei 1995 dirawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta karena penyakit kanker hati. Penyakit itulah yang merenggut jiwanya pada Minggu, 28 Mei, pukul 06.25. Almarhum Arifin C. Noer meninggalkan seorang istri, Jajang Pamontjak dan dua anak dari Jajang: Nita Nazira dan Marah Laut; serta dua anak dari istri pertama: Vita Ariavita dan Veda Amritha.



Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


A. MATTULADA | A. SULASIKIN MURPRATOMO | ABDOEL RAOEF SOEHOED | ABDUL AZIS LAMADJIDO | ABDUL DJALIL PIROUS | ABDUL GAFAR ABDULLAH (EBIET G. ADE) | ABDUL GAFUR TENGKU IDRIS | ABDUL KADIR | ABDUL KARIM OEY | ARBI SANIT | ARDIANSYAH | ANWAR NASUTION | ARIEF BUDIMAN | ARIFIN CHAIRIN NOER | ANTON SOEDJARWO | ARIFIN M. SIREGAR | AMRI YAHYA | ARISTIDES KATOPPO | AMIRMACHMUD | ARSWENDO ATMOWILOTO | AMIR MOERTONO | AWALUDDIN DJAMIN | AZWAR ANAS | ALI SADIKIN | AHMAD SYAFII MAARIF | AHMAD SADALI | ACHDIAT KARTA MIHARDJA | ABDULLAH PUTEH | ABDULGANI | ABDUL RACHMAN RAMLY | ABDUL QADIR DJAELANI | ABDUL LATIEF | A. Deni Daruri | A.T. Mahmud | Abdul Hakim Garuda Nusantara | Abdul Mun'im Idries | Abdullah Gymnastiar | Ade Armando | Ade Rai | Afan Gaffar | Agnes Monica | Agum Gumelar | Ahmad Syafi'i Ma'arif | Alfons Taryadi | Amir Syamsuddin | Amiruddin Zakaria | Amri Yahya | Amrozi | Anand Krishna | Ananda Sukarlan | Anang Supena | Andrianus Meliala | Andy F. Noya | Anton Bachrul Alam | Anton M. Moeliono | Apong Herlina | Arbi Sanit | Aria Kusumadewa | Arifin Panigoro | Aristides Katoppo | Arjatmo Tjokronegoro | Arswendo Atmowiloto | Arwin Rasyid | Asikin Hanafiah | Atmakusumah Astraatmadja | August Parengkuan | Ayu Azhari | Ayu Utami | Azyumardi Azra | Anwar Nasution | Arief Budiman | Abdul Rahman Saleh | Anton Apriyantono | Adyaksa Dault


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq