
Nama : Amiruddin Zakaria
Lahir : Sigli, Pidie, 8 Mei 1949
Agama : Islam
Pendidikan : Fakultas Hukum UGM Yogyakarta (1976)
Karir : 1. Sejak 1980 bertugas sebagai hakim di Samarinda, Kalimantan Timur di Maros Sulawesi Selatan
2. Tanjung Pinang, Riau (1994), Wakil Ketua selanjutnya
3. Ketua Pengadilan Negeri Dumai, hakim di PN Jakarta Pusat (sejak 2000 - sekarang)
Alamat Rumah : Kompleks Vila Kelapa Dua, Jakarta Barat
|
|
Amiruddin Zakaria
Suara Amiruddin Zakaria bisa menggelegar garang, mengatasi hiruk-pikuknya suasana sidang. Dengan logat Aceh yang kental, ia enteng saja membentak siapa saja yang membuat gaduh. €œHandphone siapa itu!€ bentak sang hakim. €œJangan mentang-mentang ya! Ini ruang sidang. Suara itu mengganggu konsentrasi. Di sini nasib orang ditentukan.€
Saksi atau terdakwa yang memberi jawaban berbelit-belit dia sambar dengan hardikan. €œKalau mungkir, pakailah dalih yang masuk akal!€ Ahli hukum tatanegara Prof. Dr. Ismail Suny, SH, MCL, yang seasal dengannya, tak luput dari sergahannya: €œSaya juga orang Aceh!€ Soalnya, saksi ahli yang meringankan dalam kasus Akbar Tandjung itu berdalih bahwa suaranya yang tinggi karena itu merupakan ciri khas orang Tanah Rencong.
Amiruddin juga terkesan punya nyali. Ketika ada wartawan bertanya apakah ia tidak jeri mengadili tokoh-tokoh publik yang berpengaruh seperti Akbar Tandjung dan Tommy Soeharto, ia menjawab lantang: €œKalau takut, tak usaha jadi hakim!€ Terbukti ia menghukum Akbar dan Tommy masing-masing 15 dan tiga tahun penjara.
Mungkin, sifat tegas dan keras itu pembawaannya sejak kecil. Ia memang badung. Lingkungan yang keras ikut menempanya menjadi sosok yang keras dan tegas. Maklum, Sigli tahun 1953 memang bagian daerah konflik di Aceh ketika Teungku Daud Beureueh dan kawan-kawan memisahkan diri dari Jakarta dengan mendirikan Negara Islam Indonesia.
Sebagai orang Pidie, Aceh, lelaki kelahiran Sigli ini lazimnya menjadi pedagang €“ seperti ayahnya yang memperniagakan hasil bumi hingga ke Penang, Malaysia. €œSaat itu, Ayah sudah pakai jas wol,€ katanya.
Namun Amiruddin mengingkari tradisi keluarganya. Kenakalannya justru mencabutnya dari lingkungan pedagang dan menerjunkannya ke suasana pendidikan. Ceritanya, waktu di kelas satu SMA di Sigli, ia menjadi kepala geng beranggotakan teman-teman sebayanya dan sering tarung dengan anak-anak dari geng yang lain. Tak tahan dengan kenakalannya, ayahnya mengirim Amiruddin ke €œkota pelajar€ Yogyakarta. Di sini ia dimasukkan ke Kolese De Britto, yang terkenal disiplin. Toh kolese ini membebaskan murid-muridnya berpenampilan bebas. Ia pun langsung menggondrongkan rambutnya. €œSering saya ikat ke belakang,€ kenang lelaki lulusan Fakultas Hukum UGM (1976) ini.
Ketertarikannya pada dunia justitia mungkin ada kaitannya dengan peristiwa ini. Masih di Sigli, salah satu pamannya mengajaknya menghadiri sidang pengadilan. €œMir, kamu jadi hakim saja,€ usul pamannya. Ia dengan tegas berkata tidak. Sebagai anak-anak berusia tujuh tahun saat itu, ia lebih menyenangi penampilan jaksa yang berpakaian seragam. Lebih memilih jadi jaksa, ia berkata pada pamannya, €œJaksa itu kan lebih tinggi dari hakim. Om saya bilang sebaliknya. Hakim justru lebih tinggi ketimbang jaksa.€
Amirudin Zakaria bukan orang baru di dunia peradilan Indonesia. Ia sudah dua puluh tahun lebih menggelutinya, bertugas sebagai hakim di banyak tempat di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Namun, nama mantan anggota Tim Operasi Tertib Pusat pimpinan Laksamana Sudomo itu dikenal luas oleh publik setelah ia menangani sejumlah kasus besar seperti korupsi dana BLBI dan si Raja Kayu Bob Hasan.
Ia tak dapat melupakan penempatan pertamanya sebagai hakim di Kalimantan Timur. Saat menjadi ketua majelis hakim di Kuala Kapuas, 1989, ia mengadili dalam kasus pemenggalan kepala manusia (ngayau). "Saya menghadapi ribuan massa yang pro dan kontra terhadap proses pengadilan itu. Bahkan rumah saya hendak diserbu. Tapi saya bisa menghadapinya dan menghukum pelakunya 15 tahun penjara," papar Amiruddin.
Tak urung, popularitasnya sejak menangani kasus Tommy membawa dirinya masuk stasiun televisi CNN. €œHebat juga ya. Padahal, keluarga dan famili saya dulu mempertanyakan. Mau apa jadi hakim,€ kenangnya.
Kini ia masuk dalam deretan hakim yang €œditakuti€ para terdakwa. Karena sikapnya tegas, lugas, bahkan terkesan galak dan tanpa kompromi. Misalnya, dalam debat panjang dengan para pengacara Tommy Soeharto, ia bersikeras tetap membacakan vonis atas Tommy, meski terdakwa waktu itu tak bisa hadir karena sakit. €œKesempatan membela sudah habis. Ini saatnya membacakan putusan. Silakan penasehat hukum keluar, tapi kami tidak pernah mengusir atau memerintahkan keluar. Itu hak saudara. Kami akan tetap membacakan putusan,€ ujar Amiruddin diiringi tepuk dan sorak pengunjung yang memadati aula Gedung Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Kemayoran, Jakarta Pusat, yang disulap menjadi ruang sidang, Jumat 26 Juli 2002.
€œSaya memang harus bersikap keras dan tegas dalam sidang. Orang boleh bilang kaku, tapi biar saja. Saya profesional saja menjalankan tugas,€ucap lelaki yang mengaku mendapat pendidikan disiplin dari ibunya.
Amiruddin mengaku jatuh hati pada Yogyakarta, yang telah mengubah perangainya. €œYa saya suka di sana, yang dihargai adalah pendidikan. Orang dihargai bukan karena kekayaan atau latar belakang orang tuanya, tapi karena prestasinya,€ kesannya mengenai kota pendidikan itu. Ia ingat, ia berangkat dari dari Aceh bersama anak-anak gubernur, bupati, atau pejabat lain. Tapi setiba di Yogya, biar anak gubernur tapi kalau prestasi sekolahnya tidak bagus, tidak akan €œdianggap€ oleh orang sekelilingnya.
Ayah empat anak ini sempat terheran-heran membandingkan prestasinya kini dan kenakalan masa lalunya. €œKalau membayangkan masa lalu saya di SMA, saya enggak membayangkan bisa menjadi hakim begini rupa,€ katanya. Foto penampilan berambut gondrongnya sempat ia tunjukkan pada anak-anaknya. Mereka kaget dan enggak percaya. Tapi itulah masa lalu,€ katanya.
Serampung mengadili kasus Akbar Tandjung dan Tommy Soeharto di Pengadilan Jakarta Pusat, ia merasa letih. €œSaya akui, dua kasus itu memang membuat saya sangat capai. Tapi itu sudah resiko tugas,€ ujar penyuka pusi Khalil Gibran ini. Sebagai bahan evaluasi, ia merekamnya, yang seluruhnya berjumlah 60 kaset.
|