
Nama : Prof.Dr. Azyumardi Azra, MA
Lahir : Lubuk Alung, Sumatera Barat, 4 Maret 1955
Agama : Islam
Pendidikan : Columbia University, 1992
Karir : - Wartawan Panji Masyarakat (1979-1985)
- Dosen Pasca Sarjana Fakultas Adab dan Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1992-sekarang)
- Guru Besar Sejarah Fakultas Adab IAIN Jakarta
- Pembantu Rektor I IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1998)
- Rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1998-sekarang)
Kegiatan Lain : - Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta (1979-1982)
- Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat (1981-1982)
- Anggota Selection Committee Toyota Foundation & The Japan Foundation (1998-1999)
- Anggota SC SEASREP (Southeast Asian Studies Regional Exchange Program) (1998)
- Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) (1998-sekarang)
- Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS)anggota the International Association of Historian of Asia (IAHA) (1998-sekarang)
- Visiting Fellow pada Oxford Centre for Islamic Studies, Oxford University (1994-1995)
- Dosen Tamu University of Philippines dan University Malaya (1997)
- External Examiner, PhD program Universiti Malaya (UM) (1998-sekarang)
- Anggota Dewan Redaksi Jurnal Ulumul Quran
- Anggota Dewan Redaksi Islamika
- Pemimpin Redaksi Studia Islamika
- Wakil Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) IAIN Jakarta
Keluarga : Istri : Ipah Fariha
Anak : 1. Raushanfikri Usada
2. Firman El-Amny Azra
3. Muhammad Subhan Azra
4. Emily Sakina Azra
|
|
Azyumardi Azra
MEKKAH dan Masjidil Haram ternyata tak selamanya memberi gambaran sakral dan syahdu. Setidaknya bagi Azyumardi Azra, sang ahli sejarah Islam. Ketika bertandang ke sana untuk naik haji, 1991, ia malah menangkap suasana yang profan, yang tentu bertolak belakang dengan citra kota suci tersebut. Ahli sejarah Islam dan nilai hidup Nabi Muhammad itu juga merasa tak menemukan monumen historis sang nabi dan para sahabatnya.
"Yang menonjol itu McDonald dan Kentucky Fried Chicken yang terletak di depan masjid, yang gedungnya mewah dan lebih tinggi dari masjid," ujar Rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu. Alhasil, Azyumardi merasa perjalanan hajinya tak banyak memberi arti bagi perjalanan rohaninya.
Tapi tentu bukan karena tak menemukan suasana sakral dan syahdu tersebut, ia lantas merasa tidak cocok menjadi ulama. Menjadi ulama, katanya, tidaklah mudah. Selain menguasai ilmu dan pemahaman agama yang mendalam, juga memerlukan daya humor yang tinggi. Padahal, sementara kalangan menganggap Azyumardi pribadi yang agak terlalu serius dan tidak bisa melucu. "Makanya, saya tidak cocok menjadi ulama. Tidak seperti Gus Dur yang apa saja bisa dijadikan lelucon," kata lelaki kelahiran Lubuk Alung, Sumatera Barat, itu.
Mengaku tak pernah punya obsesi apalagi cita-cita, sedari awal Azyumardi sebenarnya lebih berminat masuk ke IKIP ketimbang IAIN. Hanya lantaran desakan ayahnyalah, ia lantas kuliah di IAIN di Jakarta. Pilihan sang ayah ternyata tak meleset. Dari IAIN inilah, karir Azyumardi (yang berarti permata hijau) justru berkilau -- namanya diapit oleh gelar Prof., Dr., dan MA. Intelektualitasnya terus bertumbuh seiring dengan banyak komunitas diskusi yang ia masuki. Dari HMI, ia melompat ke forum diskusi semacam LP3ES, dan bahkan sempat singgah di LIPI. Kata penulis sembilan buku ini, "Perjalanan hidup saya kelihatannya mengalir saja seperti air."
Mengalir seperti air itu pulalah, putra ketiga dari pasangan Azikur dan Ramlah ini meniti perjalanan kariernya. Dari seorang wartawan, dosen, peniliti, pembantu rektor sampai didaulat menjadi rektor. Dengan alasan tidak ingin menjadi birokrat, meski cuma birokrat kampus, ketika ditunjuk menjadi Pembantu Rektor I Bidang Akademik, ia sebenarnya sempat menampik. "Tapi saya tidak bisa terus menerus menolak, karena merasa berutang juga pada IAIN yang sudah menyekolahkan saya," aku ayah empat anak ini. Celakanya, kesediaannya duduk di birokrasi kampus diterjemahkan lain oleh sejawatnya, yang tak lama setelah itu, mendaulatnya menjadi rektor. "Itu saya sebut sebagai musibah," ungkap rektor yang punya 12 ribu mahasiswa itu.
Sekarang, untuk melepaskan kejenuhan pekerjaan rutinnya, sang perokok berat sesekali melakukan joging, hobi lamanya. Atau menonton pertandingan sepakbola. Soal hobi rokoknya, pemilik 15 ribu judul buku ini sebenarnya menyadarinya sebagai kebiasaan buruk. Dulu, ia pernah sukses berhenti merokok selama dua tahun, tapi kemudian menjadi pecandu lagi. "Sekarang rokok saya rokok putih, bukan kretek. Karena dilepas sama sekali juga susah," tuturnya.
|