
Nama : Ahmad Syafi'i Ma'arif
Lahir : Sumpurkudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935
Agama : Islam
Pendidikan : - SR Negeri Sumpurkudus (1947)
- Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpurkudus
- Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Lintau
- Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta (1956)
- Fakultas Sejarah dan Kebudayaan Universitas Cokroaminoto Surakarta (BA; 1964)
- Jurusan Sejarah, IKIP Yogyakarta (S1, 1968)
- Jurusan Sejarah, Ohio University, Athens, Ohio, AS, (MA, 1980)
- Pemikiran Islam, Universitas Chicago, Amerika Serikat, (Ph.D, 1983)
Karir : - Guru Bahasa Inggris dan Indonesia SMP di Baturetno, Surakarta (1959-1963)
- Guru Bahasa Inggris dan Indonesia SMA Islam Surakarta (1963-1964)
- Dosen Sejarah dan Kebudayaan Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta (1964-1969)
- Dosen IKIP Yogyakarta (1967-1969)
- Asisten dosen paruh waktu Sejarah dan Kebudayaan Islam di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta (1969-1972)
- Asisten Dosen Sejarah Asia Tenggara IKIP Yogyakarta (1969-1972)
- Dosen paruh waktu Sejarah Asia Barat Daya IKIP Yogyakarta (1973-1976)
- Dosen senior Filsafat Sejarah IKIP Yogyakarta (1983-1990)
- Profesor tamu di University of Iowa, AS (1986)
- Dosen senior (paruh waktu) Sejarah dan Kebudayaan Islam IAIN Kalijaga, Yogyakarta (1983-1990)
- Dosen senior (paruh waktu) di UII Yogyakarta (1984-1990)
- Dosen senior (paruh waktu) Sejarah Ideologi Politik Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta (1987-1990)
- Dosen senior (pensyarah kanan) di Universitas Kebangsaan Malaysia (1990-1994)
- Dosen senior Filsafat Sejarah IKIP Yogyakarta (1992-1993)
- Profesor tamu di McGill University, Kanada (1992-1994)
- Profesor Filsafat Sejarah IKIP Yogyakarta (1996-sekarang)
- Wakil Ketua PP Muhammadiyah (1995-Agustus 1998)
- Ketua PP Muhammadiyah (September 1998€“sekarang)
Kegiatan Lain : - Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia
- Pemimpin Redaksi majalah Suara Muhammadiyah Yogyakarta (1988-1990)
- Anggota Staf Ahli jurnal Ummul Qur'an (1988€“sekarang)
Keluarga : Istri: Hajjah Nurkholifah
Alamat Rumah : Perum Nogotirto Elok II, Jalan Halmahera, Blok D/76, Gamping, Sleman, Yogyakarta
|
|
Ahmad Syafi'i Ma'arif
Ahmad Syafi'i Ma'arif
Karena belas kasihan ombaklah €“ ungkapan yang lazim dipakai perantau Minang -- Ahmad Syafi'i Ma'arif sampai pada posisinya sekarang. Punya jabatan, namanya terkenal, kalkulasi pemikiran dan ucapannya juga diperhitungkan banyak orang. €œSemuanya tak terduga,€ aku Ketua PP Muhammadiyah kelahiran Sumpurkudus, Sumatera Barat, ini.
Masa lalu Syafi'i memang penuh gelombang pasang. Masa sekolahnya bisa dibilang banyak menemui kesulitan. Ketika akan masuk SMA Muhammadiyah di Yogyakarta, Syafi'i ditolak karena asal SMP-nya dari Desa Lintau di Sumatera Barat, yang dianggap tak bermutu. Ia lalu mendaftar ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah di kota yang sama. Mulanya, suami Nurkholifah ini juga akan ditolak karena tidak lulus tes. €œTapi, karena pertimbangan waktu itu saya berasal dari desa, saya diterima juga,€ kenang Syafi'i.
Di sekolah yang mencetak kader-kader da'i Muhammadiyah itu, nilai rapor Syafi'i selalu bagus dan selalu mendapat peringkat satu. Lulus dari sana, ahli sejarah ini sempat terdaftar di IAIN Sunan Ampel, Surabaya, sebelum masuk Fakultas Hukum Universitas Islam HOS Cokroaminoto Surakarta dan akhirnya pindah ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Sejarah IKIP Yogyakarta. €œSaya mengulang lagi dari semester satu,€ katanya. Alasan pindah, Syafi'i butuh jadwal studi yang tidak teratur karena ia harus juga mengajar di tempat sejauh 50 kilometer. Jadwal studi di IKIP memungkinkannya mengatur waktu, meski semuanya harus ditebus mahal. €œSaya lulus sarjana ketika umur sudah tua, 29 tahun,€ aku Syafi'i, yang pernah jadi dosen tamu di McGill University, Kanada.
Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia ini lantas mengambil S2 di Illinois, Amerika, begitu lulus dari IKIP. Tapi meninggalnya anak lelakinya menyebabkan ia meninggalkan kuliah untuk masternya dan balik ke tanah air. Di Indonesia Syafi'i mengajar beberapa tahun sebelum memutuskan kembali ke Amerika dan mengambil kuliah di Jurusan Sejarah, Ohio University, Athens, Ohio. Belum lagi rampung, ia lantas juga mengambil S3 Pemikiran Islam, Universitas Chicago, juga di Amerika. €œAmien Rais yang mengurus semua,€ Syafi'i menjelaskan.
Sejak di Chicago itulah Syafi'i mulai kuliah di bawah bimbingan Fazlur Rahman, seorang pembaharu Islam dari Mesir, yang dianggapnya banyak memberikan pencerahan, termasuk dalam memahami Alquran. €œSaya betah di sana, karena cocok dengan dunia intelektualitas saya,€ kenang si anak desa yang pernah bercita-cita hanya ingin menjadi penceramah di podium ini.
Salah satu ajaran Alquran yang benar-benar dipahami Syafi'i adalah tidak adanya paksaan dalam beragama. Tuhan, menurut Syafi'I, membebaskan manusia apakah akan menjadi kafir atau apa pun. €œTapi, tentu saja tanggung sendiri risiko masing-masing,€ katanya. Mungkin karena itu, Syafi'i mengaku bisa bertetangga dengan seorang atheis asal bisa saling menghormati.
Meski sejak kecil sudah mengenal Muhammadiyah, Syafi'i baru benar-benar menjadi pengurus organisasi Islam itu sepulang dari Chicago. Waktu itu, tahun 1985, ia diajak masuk ke Majelis Tabliq Muhammadiyah, sampai akhirnya €œgelombang€ mengempaskannya menjadi Ketua PP Muhammadiyah pada 1998. Jabatan ketua itu, sebenarnya juga bukan tiba-tiba diraih Syafi'i. Dalam beberapa kali muktamar organisasi keagamaan tersebut, ia setidaknya sudah dua kali masuk bursa ketua. €œMuktamar di Solo saya masuk calon nomor dua belas dan di Banda Aceh nomor tiga,€ ujar Syafi'i. Baru pada muktamar di Jakarta, ia terpilih sebagai ketua PP.
Soal ketertarikannya pada Muhammadiyah, pria yang pernah menyukai Darul Islam ini mengaku --selain karena terbuka-- organisasi yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan itu juga mengajarkan orang tidak menjadi pengikut yang membabi buta. Ajaran dan sikap ini pas dengan lelaki yang suka menjadi tukang potong sapi dan kambing saat hari raya Qurban itu. €œPertama kali yang mencerahkan otak saya adalah Muhammadiyah,€ tukas Syafi'i.
|