
Nama : ARSWENDO ATMOWILOTO
Lahir : Kampung Harjo Dipuran, Solo, 26 November 1948
Agama : Katolik
Pendidikan : - SD di Solo (1960)
- SLP di Solo (1963)
- SLA di Solo (1967)
Karir : - Wartawan Mingguan Dharma Kanda di Solo (1969)
- Wartawan Mingguan Dharma Nyata di Solo (1971)
- Redaktur Pelaksana majalah Astaga di Jakarta (1973)
- Wartawan MIDI (1974)
- Pemimpin Redaksi majalah Hai
- Wartawan Kompas (1974 -- sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Nangka 18, Depok I
Alamat Kantor : Majalah Hai, Jalan Palmerah Selatan 22, Jakarta Pusat Telp: 543008
|
|
ARSWENDO ATMOWILOTO
ARSWENDO ATMOWILOTO
Ndo, panggilannya, dari kecil senang mendalang. "Dari situ saya berkenalan dengan seni," katanya. Tetapi, cita-cita semula jadi dokter, "gagal karena masalah ekonomi". Lalu, lulus tes Akademi Postel di Bandung, tetapi urung berangkat, "karena tidak ada ongkos". Toh, keinginannya jadi mahasiswa terpenuhi di IKIP Surakarta (sekarang Universitas Negeri Sebelas Maret), walau cuma tiga bulan. "Saya ingin memiliki jaket universitas," alasannya masuk perguruan tinggi.
Ndo, pernah kerja macam-macam; di pabrik bihun, jaga sepeda di apotek, tukang pungut bola di lapangan tenis. Cikal bakal jadi sastrawan dengan menulis di majalah berbahasa Jawa, Dharma Kanda, 1969. Sebetulnya nama aslinya bukan Arswendo, tetapi Sarwendo. Anehnya, kalau ia menuliskan nama aslinya, "tulisan saya malah tidak dimuat," katanya. Itu dahulu. Sekarang toh ia keasyikan dengan nama tidak asli itu setelah "sukses" di Jakarta.
Selain sastrawan dan wartawan -- ia Pemimpin Redaksi Hai dan merangkap wartawan Kompas. Arswendo sangat meminati masalah televisi. Ia tidak pernah bosan melempar saran dan kritik kepada TVRI, tidak peduli ditanggapi atau tidak. Bahkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta 1982, ia menelanjangi media pemerintah itu lewat ceramahnya, Menjadi Penonton Televisi yang Baik. Ia tahu betul liku-liku pertelevisian.
Bukan cuma televisi, Ndo juga pengamat komik yang baik. Koleksi komiknya cukup lengkap, terutama yang pernah terbit di Indonesia. Ia kesal sekali, ketika di suatu zaman, komik dianggap merusak. "Tahun 1955, komik dibakar, tahun 1977 komik dirazia bersama razia rambut gondrong," tuturnya.
Ndo penasaran dan ia meneliti komik, 1977. Ternyata, komik tidak seburuk yang disangka. Bahkan PT Pustaka Jaya, penerbit yang pernah menyatakan tidak menerbitkan komik, 1972 -- pada tahun 1977 mulai menerbitkan komik.
Ndo, yang pernah mengikuti program penulisan kreatif di Iowa, AS, 1979, menikah dengan Agnes Sri Hartini. Ia mendapat tiga anak. Dan melahirkan puluhan novel dan naskah drama tetapi -- bukan komik.
UPDATE:
Lihat Apa & Siapa 2002-2003 di www.pdat.co.id
|