
Nama : ABDUL KADIR
Lahir : Tasikmalaya, Jawa Barat, 8 Desember 1926
Agama : Islam
Pendidikan : - Sekolah Pelayaran Tinggi, Cilacap (1944)
- Akademi Militer Yogyakarta (1945-1948)
- Armed Forces War College di Beograd (1964-1966)
- US Army Logistic Management, Fort Lee Virginia dan US Army Infantry Officers Career Course, Fort Benning, AS (1961)
- Defence Resources Management, Monterey California, AS (1977)
- Fakultas Sospol Universitas Jayabaya (sarjana 1972)
Karir : - Anggota BKR Ja-Bar (1945)
- Letnan Dua di Divisi Diponegoro (1948-1951)
- Perwira di MBAD Jakarta (1951)
- Tugas Merintis Kerja Sama Indonesia Yogoslavia (1956-1958)
- Dosen Tidak Tetap AMN Magelang (1964)
- Kepala Pusat Infanteri di Bandung (1966)
- Wakil Ketua Gabungan IV (1972)
- Wakil Asisten Logistik Hankam (1974)
- Direktur Lembaga Manajemen Hankam (1977)
- Asisten Menko Polkam Bidang Politik dan Keamanan Nasional (1980)
- Sekjen Deppen RI (1982-sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Tebet Barat XI No. 3, Jakarta Selatan Telp: 824870
Alamat Kantor : Departemen Penerangan, Jalan Merdeka Barat 9, Jakarta Pusat Telp: 349931
|
|
ABDUL KADIR
Bercita-cita jadi pelaut, Abdul Kadir ternyata kemudian menghabiskan 35 tahun dari usianya sebagai orang Angkatan Darat. Ketika, 1982, Menteri Penerangan Ali Moertopo memanggilnya untuk menerima pemberitahuan tentang pengangkatannya sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Penerangan ia sempat terperanjat.
Berganti menteri penerangan, dari Ali Moertopo ke Harmoko, 1983, Kadir masih menempati kedudukan sekjen. Malah, ia kemudian ditetapkan sebagai Ketua Panitia Penyelenggara Konperensi Menteri Penerangan Nonblok, awal 1984. Tugas itu dijalankannya dengan baik.
Karena bercita-cita menjadi pelaut itulah, pria ini masuk Sekolah Pelayaran Tinggi di Cilacap pada masa pendudukan Jepang. Laksamana Sudomo, kini Menteri Tenaga Kerja, adalah teman seperguruannya. Revolusi pecah memaksanya bergabung dengan Barisan Keamanan Rakyat (BKR). "Saya ditertawai rekan- rekan. Orang laut kok mau jadi orang darat," katanya mengenang. Cita-cita awalnya semakin menjauh begitu ia dikirim belajar pada Akademi Militer Yogyakarta. Ia termasuk angkatan pertama bersama antara lain Wiyogo Atmodarminto, Himawan Sutanto, dan Sayidiman Suryohadiprojo.Menyandang pangkat letnan dua sesudah menamatkan Akademi Militer, Kadir bertugas di Yonter-I (setingkat Koramil) di Sleman, Yogyakarta. "Saya gatal juga mau menghantam Belanda, tetapi jarang bertemu musuh," katanya.
Bagi sarjana sosial politik jurusan hubungan internasional Universitas Jayabaya yang juga pernah mendalami ilmu kemiliteran di AS itu, pengertian informasi dalam abad ke-20 in mencakup tiga dimensi. Yaitu memberikan informasi dan sekaligus memotivasikannya, menetralisasikan informasi yang tidak benar, dan meluruskan informasi yang salah dan menyesatkan. Mengutip ahli Amerika, Marta Boaz, yang meramalkan akan terjadi ledakan informasi pada tahun 2000-an, Kadir menekankan, "Siapa yang menguasai informasi akan unggul dari yang lain."
Kadir, anak kedua dari tujuh bersaudara, dididik ayahnya, Haji Idi Subrata, pegawai PTT, dalam suasana keagamaan dan kebangsaan. Sempat menjadi anggota Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). "Syarat masuk KBI berat," tuturnya. Lagu Indonesia Raya, yang waktu itu tabu bagi pemerintah kolonial, "Harus kami nyanyikan di luar ruangan," ujar ayah empat anak, dari perkawinannya dengan R.R. Kadarmani Purwoyono itu.
UPDATE:
Abdul Kadir mengakhiri jabatan sebagai Sekjen Deppen pada 1987.
|