A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Ade Armando




Nama :
Ade Armando

Lahir :
Jakarta, 24 September 1961

Agama :
Islam

Pendidikan :
1. SD Banjarsari I, Bandung (1973)
2. SMP Negeri 2 Bogor (1976); SMA Negeri 2 Bogor (1980)
3. Jurusan Komunikasi, FISIP Universitas Indonesia (S1, 1988)
4. Population Studies, Florida State University (S2, 1991)


Karir :
1. Wartawan majalah Prisma (1988-1989)
2. Redaktur Penerbit Buku LP3ES (1991-1993)
3. Redaktur harian Republika (1993-1998)
4. Manajer Riset Media Tylor Nelson Sofres (1998-1999)
5. Direktur Media Watch & Consumer Center (2000-2001)
6. Ketua Program S1 Komunikasi FISIP UI (2001-2002)


Kegiatan Lain :
Ketua Media Ramah Keluarga (1998-2002)

Keluarga :
Ayah : Jus Gani (alm) Ibu : Juniar Gani Istri : Nina M. Armando

Alamat Rumah :
Perumahan Pandan Asri, Blok B2/23, Bogor, Jawa Barat. Telepon 0251-503333

Alamat Kantor :
Jurusan Ilmu Komunikasi, Gedung B Lt. 2 FISIP UI, Depok 7866377

 

Ade Armando


Ibarat roda pedati, hidup Ade Armando pernah di atas, lalu di bawah, dan kemudian di atas lagi. Sebagai anak pejabat, ia sempat hidup berkecukupan. Setelah ayahnya tak lagi menjabat, ia pun hidup sengsara. Untunglah kini, sebagai ahli komunikasi €“ yang getol memerangi pornografi €“ kehidupannya kembali meniti jenjang anak tangga yang mendaki.

Ayahnya, almarhum Mayor Jus Gani, adalah seorang anggota intelejen di era Soekarno yang disusupkan ke kedutaan RI. Tentu sebagai anak pejabat hidupnya jauh dari susah. Lahir di Jakarta, namun ia tak lama menghirup udara Ibu Kota. Sejak Ade berusia tujuh bulan, ia bersama ibu dan kakak-kakaknya diboyong bapaknya ke Maroko, Afrika Utara.

Tujuh tahun lamanya di sana, ia menikmati segala fasilitas anak pejabat kedutaan. Sayang itu tak berlangsung lama. Gonjang-ganjing politik di Indonesia pada 1965-1966, yang menyebabkan Presiden Soekarno jatuh, berimbas kepada ayahnya: Gani dituduh sebagai antek Soekarno. Jus Gani langsung ditarik ke Indonesia, lalu dipecat. Setelah sang ayah menganggur, kehidupan mereka sontak berubah. €œSaya tahu persis, dari omongannya, ia bukan orangnya Soekarno. Dia diberhentikan bukan karena itu, justru karena dia sangat pro-Amerika. Sampai meninggal pun, dia sangat pro-Amerika,€ ujar lelaki berdarah Minang ini.

Jus Gani pernah berdagang ke Malaysia, tapi gagal. Mulai sejak itu Ade benar-benar hidup dalam kesederhanaan. Di Negeri Jiran si bungsu di antara tiga bersaudara itu sempat dipermalukan di depan teman-temannya oleh seorang guru keturunan Cina. Guru itu menguji kemampuannya berbahasa Inggris, dan ternyata Ade gelagapan menjawabnya. Si guru bahkan menyebutnya 'setan'. €œSepertinya dia tidak suka Indonesia, mungkin akibat konfrontasi RI dengan Malaysia,€ ujar peraih S2 (studi kependudukan) dari Florida State University, AS, ini.

Ade menaruh dendam kepada guru itu. Saat liburan ia belajar bahasa Inggris sampai lancar. Sayang dendam itu tak terbalas. €œAda kerusuhan antarras dan guru itu tak mengajar lagi di sana. Sepertinya ia tersingkir dari sekolah,€ ungkap pria berkacamata minus-7 ini. Pada 1968 keluarga Ade balik ke Bandung. Saat itu keluarganya benar-benar pailit. Untung saja keluarga ibunya memberi bantuan finansial.

Meski himpitan ekonomi kian berat, Ade kecil masih menikmati masa kanak-kanaknya. Ia sangat menyukai permainan yang melibatkan tim, semisal bebentengan atau galah asin. Sayang, ia hanya menikmatinya sesaat. Minus pada matanya makin tinggi. €œSangat menyiksa, bahkan saat masuk SMP minusnya mencapai enam. Saya sempat dikatakan bolor€ ungkap lelaki setinggi 160 sentimeter dengan berat 65 kilogram ini.

Ia sangat mengidolakan ayahnya yang diplomat itu. Ia pun tak membantah ketika ayahnya menyarankan mendaftar di FISIP UI, agar ia kelak dapat menjadi diplomat. Saat ujian masuk perguruan tinggi ia hanya mendaftar di satu tempat. €œSaya tak mampu membeli lebih dari satu formulir. Bahkan kalau saya tidak lulus di FISIP UI saya bisa menganggur,€ kenang ayah dua anak, Yasmin Rifadaniar dan Feisal Irfansyah, itu.

Sayang, nilai mata kuliah ilmu pengantar politiknya rendah, sehingga ia terpaksa putar haluan ke jurusan komunikasi. €œTapi orang tua setuju, dan tidak masalah," ungkapnya.

Tanpa disadari kebiasaannya waktu kecil, yang sering menggunting artikel-artikel koran dan menempelnya kembali lalu menulis pengantarnya, seolah menemui tempatnya di jurusan itu. Nilai-nilai mata kuliah komunikasi massa dan jurnalismenya lumayan istimewa. Ia seperti menemukan dunianya, apalagi sejak bergabung dalam penerbitan mahasiswa, Warta UI. Ia belajar menjadi wartawan dari jurnalis senior seperti Rosihan Anwar dan Masmimar Mangiang.

Masa prihatin masih mengikutinya sampai Ade duduk di bangku kuliah. Ia sempat berjualan rempeyek di kampus, untuk mengurangi beban ekonomi keluarga dan mendukung pembiayaan kuliahnya. Perjuangan itu ia mulai sejak pagi-pagi dari Bogor, Jawa Barat, naik-turun bus menuju kampusnya di Rawamangun, Jakarta Timur. €œAgar rempeyeknya tidak hancur, saya harus memilih bus yang tempat duduk bagian pojoknya masih kosong. Tujuannya agar saya tidak bergelantungan dalam bus dan berdesakan dengan para penumpang yang lain,€ kenang ketua Program S1 Komunikasi FISIP UI itu.

Ade terobsesi pada koran Islam. Pada 1993 ia bergabung dengan harian Republika dan menempati posisi redaktur. €œSaya kepengen ada koran yang membawa nilai-nilai Islam,€ katanya. Ternyata koran itu tak memuaskan hatinya. Ia keluar dari Republika saat rezim Soeharto masih berkuasa. €œSaya melihat tekanan politiknya jadi jauh lebih besar, sedangkan media harus menyajikan berita secara obyektif,€ tutur Ade, yang memuja kelompok musik hard rock Deep Purple.

Ade kemudian bergabung dengan MMC, sebuah biro riset asing. Di perusahaan tersebut ia digaji berlipat-lipat. €œSaya memilih di sana bukan melulu karena faktor uang, tapi karena saya sudah capek di politik dan saya ingin belajar riset,€ ungkapnya.

Akhir 1998 Habibie Center berdiri, dan ia melihat banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh media. €œDewan pers juga tidak bisa ngapa-ngapain,€ ujarnya. Pada saat itu pula, Marwah Daud Ibrahim memintanya bergabung di Media Wacth. Sempat ragu-ragu, karena menduga lembaga itu akan menjadi kendaraan politik Habibie, namun kemudian ia melihat Media Watch cukup independen, termasuk bebas mengeritik Habibie. Ia lalu bergabung.

Istrinya, Nina M. Armando, adalah adik kelasnya yang terpaut dua tahun. Keduanya bertemu saat sama-sama aktif di Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HMIK) dan Senat Mahasiswa. Berteman selama empat tahun, plus satu setengah tahun menunggu Nina menyatakan €œya€, baru sepulang dari Amerika Ade menikahinya (1991). Nini kini Wakil Ketua Program D3 Komunikasi FISIP UI.

Menurutnya, istrinya wanita spesial: mandiri dan tak suka bermanja-manja. Itu yang membuatnya jatuh hati. €œSelain itu dia berani bersaing dengan laki-laki, berani bersuara dan berani mengkritik,€ pujinya.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


A. MATTULADA | A. SULASIKIN MURPRATOMO | ABDOEL RAOEF SOEHOED | ABDUL AZIS LAMADJIDO | ABDUL DJALIL PIROUS | ABDUL GAFAR ABDULLAH (EBIET G. ADE) | ABDUL GAFUR TENGKU IDRIS | ABDUL KADIR | ABDUL KARIM OEY | ARBI SANIT | ARDIANSYAH | ANWAR NASUTION | ARIEF BUDIMAN | ARIFIN CHAIRIN NOER | ANTON SOEDJARWO | ARIFIN M. SIREGAR | AMRI YAHYA | ARISTIDES KATOPPO | AMIRMACHMUD | ARSWENDO ATMOWILOTO | AMIR MOERTONO | AWALUDDIN DJAMIN | AZWAR ANAS | ALI SADIKIN | AHMAD SYAFII MAARIF | AHMAD SADALI | ACHDIAT KARTA MIHARDJA | ABDULLAH PUTEH | ABDULGANI | ABDUL RACHMAN RAMLY | ABDUL QADIR DJAELANI | ABDUL LATIEF | A. Deni Daruri | A.T. Mahmud | Abdul Hakim Garuda Nusantara | Abdul Mun'im Idries | Abdullah Gymnastiar | Ade Armando | Ade Rai | Afan Gaffar | Agnes Monica | Agum Gumelar | Ahmad Syafi'i Ma'arif | Alfons Taryadi | Amir Syamsuddin | Amiruddin Zakaria | Amri Yahya | Amrozi | Anand Krishna | Ananda Sukarlan | Anang Supena | Andrianus Meliala | Andy F. Noya | Anton Bachrul Alam | Anton M. Moeliono | Apong Herlina | Arbi Sanit | Aria Kusumadewa | Arifin Panigoro | Aristides Katoppo | Arjatmo Tjokronegoro | Arswendo Atmowiloto | Arwin Rasyid | Asikin Hanafiah | Atmakusumah Astraatmadja | August Parengkuan | Ayu Azhari | Ayu Utami | Azyumardi Azra | Anwar Nasution | Arief Budiman | Abdul Rahman Saleh | Anton Apriyantono | Adyaksa Dault


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq