A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Aria Kusumadewa




Nama :
Aria Kusumadewa

Lahir :
Lampung, 27 September 1963

Agama :
Islam

Pendidikan :
- SD Negeri 5 Lampung (1974)
- SMP 6 Lampung (1980)
- SMA 2 PGRI Lampung (1983)
- Jurusan Sinematografi Institut Kesenian Jakarta (1990)


Karir :
- Sutradara sinetron dan film layar lebar, antara lain Aku, Perempuan dan Lelaki Itu (AN TV, 1997), Dewi Selebriti (Indosiar, 1998), Bingkisan untuk Presiden (RCTI, 2001), Beth (2000, diputar 2002)

Penghargaan :
- Sutradara Terpuji untuk film Bingkisan untuk Presiden dari Forum Film Bandung 2002

Keluarga :
Ayah : M. Kusumadewa Ibu : Muhibbah Istri : Mari Kond (sudah cerai) Anak : 1. Mario Maralari 2. Matahari Merah

Alamat Rumah :
Jalan Taman Pendidikan II/ 29, Tarogong, Cilandak Barat, Jakarta Selatan HP 0818969378

Alamat Kantor :
Jalan Taman Pendidikan II No. 29, Trogong, Cilandak Barat, Jakarta Selatan

 

Aria Kusumadewa


€œSaya dibesarkan dalam keluarga Islam fundamentalis,€ kata sutradara Aria Kusumadewa. Walau sudah khatam Alquran dan lulus sekolah dasar, anak kelima dari sembilan bersaudara ini diwajibkan masuk pesantren. Tak tahan karena aturan dan disiplin tinggi, anak tukang pos itu meninggalkannya dan minta dilanjutkan ke SMP pada orangtuanya. Baru kelas satu, dorongan masa puber menimbulkan keinginan mengenal wanita. €œBahkan, saya sudah berani mencium wanita, padahal bersinggungan saja dilarang (oleh agama),€ tutur Aria.

Kelas dua SMP, Aria kabur dari rumah walau harus menanggung risiko: dianggap murtad, karena dalam keluarga ada baiat. Lalu, ia ikut keluarga temannya dan disekolahkan sampai SMA. Lulus SMA di Lampung, 1983, Aria pergi ke Jakarta dan suka nongkrong di Taman Ismail Marzuki (TIM). €œSaat itu kehidupan saya mengalir begitu saja, hidup di jalanan, dipukuli orang, punya pacar cantik,€ kenang Aria.

Di TIM, ia biasa mendengarkan percakapan di antara sesama seniman, mulai nonton film, baca komik antara lain karya Yan Mintaraga. €œNah, di dalam komik itu kan ada editingnya, ada time shot, dan hal itu saya sadari sekarang ini,€ ujarnya. Berawal dari senang membaca komik itulah, ia tertarik masuk IKJ dan mengambil jurusan sinematografi. €œWaktu saya mendaftar di IKJ, saya disuruh menggabungkan sepuluh gambar dan dibuat berurutan sesuai dengan ceritanya. Gampang saja mengerjakannya, karena dalam komik hal itu bisa kita temui,€ tutur pengagum aktris Merryl Streep ini.

Sambil bekerja sebagai tukang parkir, lalu calo jual-beli burung di Pasar Pramuka, Aria kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), lulus tahun 1990. Ia mengambil tugas akhir film pendek berdurasi delapan menit berjudul Pelacur di Malam Lebaran. Untuk menyelesaikan tugas akhir, ia harus menguras seluruh isi tabungannya. Sayangnya, tugas akhirnya itu ditolak dosen pembimbing, Sumartono (kini almarhum), lantaran film itu dianggap eksperimental. €œSaya bingung saat itu, kenapa film saya ditolak, padahal saya membuat film sendiri, menulis cerita sendiri,€ katanya. Ia bahkan sampai menangis karenanya. Namun akhirnya Aria lulus juga walau ijazahnya belum diambilnya sampai sekarang.

Film pertama Aria berjudul Senyum yang Terampas (1990) menelan biaya Rp 40 juta. Karena film itu tak laku, di saat industri perfilman lesu, Aria patah arang. Ia lalu bekerja di perusahaan advertising: membuat iklan dan video klip untuk menghidupi keluarga. Pada 1995, ia memutuskan kembali terjun ke film dengan membuat film untuk ANTeve, Siluet, disusul Aku, Perempuan dan Lelaki Itu (ANTeve, 1996), sinetron 26 episode Dewi Selebriti (Indosiar, 1998), Bingkisan untuk Presiden diproduksi pada 1999.

Film terakhir sempat tertunda karena donaturnya, Departemen Sosial, dibubarkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid€”dan baru diputar di RCTI pada 2001 setelah melalui sensor. Filmya Beth diproduksi pada 2000 dan diputar secara gerilya di lebih dari 60 kampus di Indonesia pada awal 2002. Beth terpilih mewakili Indonesia untuk diputar di Festival Kesenian Homeport, Rotterdam, Belanda, 23-24 Juni 2001. Festival Homeport adalah festival kesenian tahunan untuk kota-kota pelabuhan dunia yang bersifat non-kompetisi.

Ia mengaku, proses kreatifnya mengalir begitu saja, seperti kehidupannya. Dan lingkungan tempat dia tinggal mendukung kreativitasnya. Saat masih kuliah, ia tinggal di sebuah gang di belakang Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Di sana ia bisa menemukan berbagai mozaik kehidupan, antara lain kehidupan seorang pelacur yang bertobat. Aria pernah bergaul dengan orang-orang yang sakit jiwa, lalu muncullah ide membuat film Beth itu. Kini, ia biasa nongkrong bersama anak-anak jalanan yang dia himpun dalam Komunitas Gardu di Gelanggang Olahgara Bulungan, Jakarta Selatan. Di sana ia bergaul dengan pekerja seks dan dari situ munculah ide membuat film tentang pelacur.

Sebagai sutradara yang ingin kebebasan berekspresi. Ia berpendapat, peraturan yang mensyaratkan seseorang yang ingin menjadi sutradara harus terlebih dahulu menjadi asisten sutradara selama lima kali harus dihapus. €œPeraturan itu jelas membunuh kreativitas,€ katanya. €œTapi kalau peraturan tentang perfilman, menurut saya itu perlu,€ ujar pengagum aktor Marlon Brando€”karena sangat konsisten di bidangnya€”ini.

Aria pun tidak setuju keberadaan lembaga sensor. €œYang disensor jangan karya seninya, tapi penontonnya. Misalnya 13 tahun ke atas, 17 tahun ke atas, dan sebagainya,€ katanya. Dalam hal distribusi, menurut Aria, pemerintah harus terlibat. Karena film bisa menjadi sumber devisa bagi negara kalau diedarkan ke negara-negara lain.

Ia menyimpan pengalaman lucu dari dunia yang digelutinya. Ceritanya, seusai pemutaran perdana film Beth di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, yang mendapat sanjungan dari hadirin, ia ditolak sopir taksi karena mabuk. Terpaksa pada dini hari itu Aria jalan kaki dari Blok M ke Cilandak, kira-kira sejauh 5-6 kilometer.

Aria menikah dengan Mari Kond saat masih mahasiswa dan dikaruniai dua anak, Mario Maralari dan Matahari Merah. Kepada anaknya ia berpesan: €œBapak memang tidak punya apa-apa untuk diwariskan kepada kamu, tapi bapak akan mewariskan karya-karya bapak dan itu menjadi suatu kebanggaan tersendiri buat kamu.€ Perkawinannya akhirnya kandas. Tapi, ia memetik hikmahnya. €œPerceraian saya dengan istri, mungkin, jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan, supaya tetap bisa berkreasi,€ katanya.

Ia suka nonton film-film negara-negara Eropa Timur, misalnya Cheko, Yugoslavia. €œMereka orang-orang yang tertekan, sehingga realitas mereka itu sangat dekat dengan yang ada di sini,€ kata sutradara terpuji untuk filmnya Bingkisan untuk Presiden versi Forum Film Bandung 2002 ini. Di saat proses produksi film, Aria sangat disiplin dalam segala hal. €œDi luar itu saya tidak punya aturan waktu yang jelas, dan bisa tidur ataupun bangun sekenanya.€ Ia suka baca novel dan hobi mancing di laut.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


A. MATTULADA | A. SULASIKIN MURPRATOMO | ABDOEL RAOEF SOEHOED | ABDUL AZIS LAMADJIDO | ABDUL DJALIL PIROUS | ABDUL GAFAR ABDULLAH (EBIET G. ADE) | ABDUL GAFUR TENGKU IDRIS | ABDUL KADIR | ABDUL KARIM OEY | ARBI SANIT | ARDIANSYAH | ANWAR NASUTION | ARIEF BUDIMAN | ARIFIN CHAIRIN NOER | ANTON SOEDJARWO | ARIFIN M. SIREGAR | AMRI YAHYA | ARISTIDES KATOPPO | AMIRMACHMUD | ARSWENDO ATMOWILOTO | AMIR MOERTONO | AWALUDDIN DJAMIN | AZWAR ANAS | ALI SADIKIN | AHMAD SYAFII MAARIF | AHMAD SADALI | ACHDIAT KARTA MIHARDJA | ABDULLAH PUTEH | ABDULGANI | ABDUL RACHMAN RAMLY | ABDUL QADIR DJAELANI | ABDUL LATIEF | A. Deni Daruri | A.T. Mahmud | Abdul Hakim Garuda Nusantara | Abdul Mun'im Idries | Abdullah Gymnastiar | Ade Armando | Ade Rai | Afan Gaffar | Agnes Monica | Agum Gumelar | Ahmad Syafi'i Ma'arif | Alfons Taryadi | Amir Syamsuddin | Amiruddin Zakaria | Amri Yahya | Amrozi | Anand Krishna | Ananda Sukarlan | Anang Supena | Andrianus Meliala | Andy F. Noya | Anton Bachrul Alam | Anton M. Moeliono | Apong Herlina | Arbi Sanit | Aria Kusumadewa | Arifin Panigoro | Aristides Katoppo | Arjatmo Tjokronegoro | Arswendo Atmowiloto | Arwin Rasyid | Asikin Hanafiah | Atmakusumah Astraatmadja | August Parengkuan | Ayu Azhari | Ayu Utami | Azyumardi Azra | Anwar Nasution | Arief Budiman | Abdul Rahman Saleh | Anton Apriyantono | Adyaksa Dault


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq