
Nama : SABAM PANDAPOTAN SIAGIAN
Lahir : Jakarta, 4 Mei 1932
Agama : Protestan
Pendidikan : - SR PSKD Kwitang II, Jakarta (1945)
- Christelijke MULO, Jakarta (1949)
- SMA Istimewa, Jakarta (1952)
- Fakultas Hukum dan Pengetahuan Kemasyarakatan UI, merangkap di - Akademi Dinas Luar Negeri, Jakarta (tidak selesai)
- Nieman Fellow for Journalism, Universitas Harvard, Cambridge, AS (1978-1979)
Karir : - Research Assistant pada Staf Penasihat Militer Perwakilan Tetap RI di PBB (1967-1973)
- Wakil I Pemred/Redaktur Senior harian Sinar Harapan (1973- 1983)
- Pemred harian The Jakarta Post (1983-sekarang)
Kegiatan Lain : -Research Assistant pada Staf Penasihat Militer Perwakilan Tetap RI di PBB (1967-1973)
-Wakil I Pemred/Redaktur Senior harian Sinar Harapan (1973- 1983)
-Pemred harian The Jakarta Post (1983-sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Anggur Barat II/2, Cipete Selatan, Jakarta Selatan Telp: 761547
Alamat Kantor : Jalan Palmerah Selatan No. 15, Jakarta Pusat Telp: 543948
|
|
SABAM PANDAPOTAN SIAGIAN
Pada sidang OPEC, Januari 1979, di Abu Dabi, Sabam tidak membawa mesin ketik. Demi melihat sebuah mesin tulis menganggur di ruang wartawan, ia langsung menggunakannya. Seseorang segera memberi tahu, mesin itu milik James Tanner, wartawan perminyakan yang punya hubungan pribadi dengan para raja minyak Arab, dan sangat disegani rekan seprofesi. "Saya kaget setengah mati," tutur Sabam.
Belum sempat ia beranjak, si empunya mesin tulis datang. Ternyata, Sabam tidak diomeli. "Tanner, sebaliknya, bersedia menerangkan segala hal yang tidak saya ketahui," kata Sabam. Waktu itu James Tanner bekerja untuk Wall Street Journal -- kini ia pengelola Petrolium Information International. "Saya terkesan, sebagai wartawan hebat, ternyata James sangat rendah hati dan bersedia membantu wartawan kroco seperti saya," kata Sabam. Selanjutnya mereka bersahabat.
"Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik bidang ekonomi," kata Sabam. Tetapi, karena di tahun 1970-an sedikit sekali wartawan kita yang memperhatikan masalah ekonomi, terutama minyak -- padahal ekspor Indonesia meliputi 70% emas hitam itu -- ia merasa terpanggil. "Sekarang saya gembira, karena banyak teman yang sudah memperhatikan soal itu," katanya. Ia pun mulai mengalihkan perhatian pada masalah politik negara-negara berkembang.
Yang tidak berubah dari anak sulung dengan enam saudara ini adalah pipa cangklongnya. Sabam kolektor selusin pipa. "Merk Charatan yang paling saya sukai," katanya. Tembakau langganannya adalah Dunhill Standard Mixture Medium. Ia juga masih setia menikmati cerutu setiap usai makan pagi.
Ayahnya, Pendeta Isak Siagian, almarhum, salah seorang pemilik saham PT Sinar Kasih yang mendirikan harian Sinar Harapan, mengharapkan Sabam menjadi ahli hukum. Tetapi, "Sejak kecil saya memang ingin menjadi wartawan. Kuliah saya di Fakultas Hukum UI tidak saya selesaikan," tuturnya. Sebelum akhirnya menjadi pemimpin redaksi harian berbahasa Inggris The Jakarta Post, Sabam telah sukses pula menjadi redaktur senior harian Sinar Harapan.
Sabam menikah dengan Stella Maris di New York, 8 Juni 1962. Ayah dua anak ini selain menggemari tenis juga rajin lari santai di sekitar rumahnya, hampir setiap pagi.
|