
Nama : SAHIRUL ALIM
Lahir : Pamekasan, Madura, Jawa Timur, 28 Mei 1938
Agama : Islam
Pendidikan : - SD, Pamekasan (1950)
- SMP, Pamekasan (1953)
- Madrasah Diniyah, Pamekasan (1955) ; SMA, Pamekasan (1956)
- Fakultas Teknologi Kimia UGM, Yogyakarta (1961)
- Universitas California, Los Angeles, AS (M.Sc., 1964)
- Seminar Internasional Bahan Bakar Nuklir, Karlsruhe, Jerman Barat (1971-1972)
Karir : - Dosen Kimia Umum pada Akademi Militer Nasional, Magelang (1958-1960)
- Asisten Muda Kimia Analitik FIPA UGM (1959)
- Dosen Kimia Fisika dan Agama Islam UGM (1961-sekarang)
- Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FIPA UGM (1973-1974)
- Sekretaris Bagian Kimia FIPA UGM (1974-1978)
- Pembantu Rektor II Universitas Islam Indonesia (1974-1982)
- Kepala Bagian Kimia FIPA UGM (1978-1980)
- Pembantu Rektor Bidang Pembinaan Keagamaan UII (1982- sekarang)
Alamat Kantor : FIPA UGM, Bulaksumur, Yogyakarta
|
|
SAHIRUL ALIM
Sahirul Alim termasuk anak yang cerdas. Sejak SD hingga lulus SMA di Pamekasan, Madura, ujiannya hampir selalu mencapai nilai tertinggi. Angka sepuluh diperolehnya untuk mata pelajaran kimia, ilmu ukur, ilmu alam, dan ilmu pesawat.
Ia juga diasuh Kiai Muhammad bin Salim. Tiap pagi belajar di sekolah dasar, sore mengikuti sekolah diniyah. "Malamnya, saya membaca Quran," katanya. "Paling tidak satu juz." Ia lantas menjadi hafal seluruh ayat Quran, dan mampu melafazkannya dengan baik dan benar.
Selama menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ia juga gemar membaca. Ditelaahnya berbagai buku agama Islam dari pelbagai aliran. "Saya tidak terkurung dalam fanatisme," ujarnya.Ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan kepandaiannya di antara sesama teman kuliahnya, tetap saja menonjol. Naik tingkat di tahun kedua, ia mendapat beasiswa, dan diangkat menjadi asisten di laboratorium kimia tatkala menduduki bangku tingkat tiga. Akhirnya, gelar insinyur diraihnya pada 1961. Ia langsung diangkat sebagai asisten dosen, kemudian segera menjadi dosen. Tiga bulan setelah itu, ia menikah dengan gadis Yogyakarta berdarah Aceh, Cut Meutiah Farida.
Pada 1963, sarjana yang alim ini berangkat ke Amerika Serikat, bertugas memperdalam studinya di Universitas California. Dua tahun belajar di sana, ia berhasil meraih gelar M.Sc. Kembali ke tanah air, jabatan lektor kepala di UGM telah menantinya.
Sarjana teknik kimia yang juga mengajar agama Islam, ini biasa berdakwah sejak jadi aktivis HMI di Yogyakarta. Kerap memberikan ceramah di berbagai tempat pengajian, juga di RRI. Berbicara di depan para jemaah Badan Amalan Islam (BAI) di Semarang, 1984, ia memaparkan masalah bayi tabung. "Sesungguhnya, menurut pandangan Islam, bayi tabung tidak haram," katanya. Ia menilai kekeliruan umat Islam Indonesia dalam menanggapi bayi tabung. "Umumnya akibat kurang informasi," katanya. Menurut dosen UGM ini, "Kelahiran bayi lewat sistem bayi tabung akan menjadi haram, bila sperma yang dipertemukan bukan milik suami istri yang sah."
Kini, bekas ketua Korps Alumni HMI Yogyakarta, yang telah menjadi ayah tiga anak, ini menyusun kumpulan renungannya tentang ayat-ayat suci Quran, yang dikaitkannya dengan gejala alam semesta. "Buku itu direncanakan berjudul: Capita Selecta," katanya.
|