
Nama : SISWONO JUDO HUSODO
Lahir : Longiram, Kalimantan Timur, 4 Juli 1943
Agama : Islam
Pendidikan : - SD, Kendal (1955)
- SMP, Kendal (1958)
- SMA, Jakarta (1961)
- Fakultas Teknik Sipil ITB (1968)
- Manajemen Keuangan, LPPM
Karir : - Direktur Utama PT Bangun Tjipta Sarana (1969-1983)
- Komisaris Utama PT Bangun Tjipta Sarana (1983-sekarang)
Kegiatan Lain : - Ketua Dewan Kehormatan Hipmi (1983-sekarang)
- Bendahara Persatuan Insinyur Indonesia (1978-1983)
- Wakil Ketua I Asosiasi Kontraktor Indonesia (1983-sekarang)
- Ketua Umum Real Estate Indonesia (1983-1986)
- Departemen Koperasi & Wiraswasta DPP Golkar (1983-1986)
Alamat Rumah : Jalan H. Abdul Majid 48, Cipete, Jakarta Selatan Telp: 761264
Alamat Kantor : Jalan Letjen S. Parman 53-54, Bunderan Slipi, Jakarta Pusat Telp: 544907
|
|
SISWONO JUDO HUSODO
Pada 1966, Siswono menjadi wakil komandan Barisan Soekarno. Ini menyebabkan ia diskors dari ITB, padahal tinggal merampungkan dua mata kuliah lagi. Merasa mustahil bekerja pada instansi pemerintah, putra dr. Soewondo, bekas wakil gubernur Jakarta (1962-1966) ini mencoba berwiraswasta. "Mau jadi pedagang kaki lima pun, tidak ada yang bisa melarang, 'kan?" ujar Siswono Judo Husodo -- kini Komisaris Utama PT Bangun Tjipta Sarana.
Siswono memulai berdagang dengan mengambil bawang putih dan kedelai di Batu, Malang, Jawa Timur. Komoditi utangan itu dijualnya ke Jakarta. Mula-mula ia dipercayai membawa satu truk, kemudian dua sampai tiga truk. Ia heran juga mengapa para petani mempercayainya, mungkin karena ia memegang janji. "Confidence itu memang harus di-built up," katanya.Merasa dirinya berlatar belakang pendidikan teknik sipil, setahun setelah lulus ITB, 1969, Siswono mendirikan perusahaan kontraktor CV Bangun Tjipta. "Modal pertama Rp 7,5 juta, pinjaman dari tiga teman," tuturnya. Ia memulai usahanya dengan mengerjakan order renovasi rumah dan kakus. Tahun berikutnya, anak kedua dari sembilan bersaudara ini mengalihkan perusahaannya ke perseroan terbatas, dengan nama PT Bangun Tjipta Sarana. Kini, dengan tiga divisi yang membawahkan delapan unit usaha, perusahaan yang menonjol di bidang real estate itu memiliki modal yang disetor Rp 4.467 juta dan putaran Rp 1,65 milyar (1985).
Meskipun dinilai sukses sebagai usahawan, "I'am not really a businessman," katanya. Seperti ayahnya, yang acap mengobati orang tanpa imbalan, "Saya tidak tegaan." Pengurus GMNI Komisariat ITB 1961-1968 ini hingga kini suka nongkrong di warung-warung kaki lima, mengemudikan mikrolet, atau mengobrol dengan tukang pancing. "Orang perlu sekali-sekali melihat ke luar dunianya .. Melihat dunia Anda dengan persepsi orang luar," katanya.
Siswono bekerja dari pukul 07.30 hingga 23.00. Tetapi, pria yang akhirnya memilih menjadi anggota Golkar ini merasa lebih sesuai sebagai orang organisasi. Membuka kantor di rumah pribadinya di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, khusus untuk urusan organisasi, ia kini Wakil Ketua Umum Kadin, wakil presiden organisasi real estate sedunia FIABCI, Wakil Ketua I Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI), di samping duduk pula di kepengurusan Golkar.
"Jadi orang swasta itu enak," kata ayah empat anak, hasil pernikahannya dengan Ratih Djody Gondokusumo, S.H., putri bekas menteri kehakiman RI. Pengagum Prof. Dr. Ir. Roosseno dan Prof. Ir. Sutami ini menggemari olah raga sepak bola, lari pagi, tenis, dan golf. Siswono rajin membaca, dan mampu menulis. Sebuah bukunya, Warga Baru: Kasus Cina di Indonesia, diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan Yayasan Padamu Negeri, 1985.
|