
Nama : SOERJONO SOEKANTO
Lahir : Jakarta, 30 Januari 1942
Agama : Islam
Pendidikan : - SD, Jakarta (1954)
- SMP, Jakarta (1957)
- SMA, Jakarta (1960)
- Fakultas Hukum UI, Jakarta (Sarjana, 1965)
- Universitas California, Berkeley, AS (M.A., 1970)
- Fakultas Hukum UI, Jakarta (Doktor, 1977)
Karir : - Asisten Dosen Fakultas Hukum UI (1961-1965)
- Asisten Ahli (1965-1966)
- Lektor Muda (1966-1970)
- Lektor Madya (1970-1973)
- Lektor, kemudian Lektor Kepala (1973-1979)
- Pembantu Dekan Bidang Penelitian dan Pengabdian Fakultas Hukum UI (1982-1983)
- Guru Besar Sosiologi Hukum, Fakultas Hukum UI (1983-sekarang)
Karya : Karya tulis penting:
Antara lain:- Kamus Hukum Adat, Alumni, 1978
- Kamus Sosiologi, Rajawali, 1983
- Aspek Hukum dan Etika Kedokteran di Indonesia
Grafitipers, 1983
- Teori Sosiologi tentang Perubahan Sosial, Ghalia Indonesia, 1983
Alamat Rumah : Jalan Prapatan III/29, Jakarta Pusat
Alamat Kantor : Kampus UI, Rawamangun, Jakarta Timur
|
|
SOERJONO SOEKANTO
Anak tunggal keluarga Prof.Dr. Soekanto, S.H. ini memegang teguh pesan ayahnya. "Tidak boleh mencampuri urusan orang lain, peri laku harus nyata, kalau membantu orang jangan mengharap imbalan," kata Soerjono Soekanto, mengulangi pesan sang ayah. Pesan itu dibawanya dalam mendidik ketiga anaknya. Ia tidak memaksa anak-anaknya memilih jurusan di perguruan tinggi. Juga tidak memanjakannya. "Dulu saya juga tidak dimanja," katanya.
Soerjono, yang dibesarkan di Jakarta, mengaku lahir dari keluarga "setengah seniman". Ayahnya yang guru besar sejarah dan hukum adat FS UI itu suka main biola. Ibunya, Sri Suliyah, gemar bermain piano. Ia sendiri pada masa mudanya pernah ikut Orkes Keroncong Tetap Segar.
Ketika berusia 19 tahun, Soerjono diminta menjadi asisten Prof. Soeyono Hadinoto dalam kuliah sosiologi. "Kebetulan ada mahasiswi yang gua taksir, tapi gua ditolaknya. Gua mikir, 'gimana kalau ujian gua lulusin apa enggak," katanya dalam dialek Betawi. Soerjono memang suka berseloroh.
Tetapi, sebagai dosen, ia sangat memegang disiplin. Terlambat satu menit saja, mahasiswanya tidak diizinkan mengikuti kuliahnya. Kini ia tidak saja mengajar di FH UI, melainkan juga di Perguruan Tinggi Hukum Militer, Universitas Sriwijaya, dan beberapa universitas swasta di Jakarta.
Banyak menulis tentang masalah hukum di beberapa media, doktor lulusan UI, 1977 -- disertasinya: Kesadaran Hukum dan Keputusan Hukum -- ini melihat bahwa kesadaran hukum warga masyarakat dan pejabat masih rendah. "Mereka hanya tahu dan mengerti. Tetapi, peri laku nyata belum sesuai," katanya.
Pendidik yang senang musik klasik dan jazz ini selalu berbicara terbuka. Ia sangat prihatin karena banyak sarjana yang malas menulis. Ia mengharapkan agar kebiasaan menulis digalakkan di kalangan mahasiswa. Namun, ia juga melihat, ada beberapa dosen muda yang berhenti menulis hanya karena dosen seniornya tidak ingin dilangkahi. Celakanya, dosen senior itu pun jarang menulis. Soerjono sendiri mengaku memegang disiplin dalam menulis. "Paling tidak sehari satu halaman," katanya. Bila mengantar istrinya ke dokter, ia menunggu di mobil untuk membaca atau menulis.
Soerjono, yang sudah ditinggalkan ibunya sejak berusia 5 tahun, hampir tidak mengenali wajah Almarhumah. Sebagai anak tunggal ia ditempa untuk berdisiplin dan teratur, tanpa kehilangan kebebasan. Didikan sang ayah menyebabkannya juga ingin mengimbangi ayahnya, dengan meraih beberapa gelar. Tahun 1983, Soerjono pun berhasil mengimbangi ayahnya setelah dikukuhkan menjadi guru besar di UI.
Menikah dengan Nani Wardani, 1962, ia dikaruniai empat anak.
|