
Nama : SAMADIKUN HARTONO
Lahir : Jakarta, 1948
Karir : - Presiden Direktur Modern Group (1965 -- sekarang)
- Presiden Direktur PT Honoris Industry (1984 -- sekarang)
Alamat Kantor : PT Modern Photo Film Co. Jalan Matramam Raya 12, Jakarta Timur Telp: 884604, 882921, 883782
|
|
SAMADIKUN HARTONO
Dari Bekasi, Jawa Barat, pabriknya memproduksi kamera Indonesia yang pertama. "Perusahaan ini murni Indonesia," katanya. "Kami cuma membayar royalty kepada Fuji, dan bebas menjual ke seluruh dunia."
Tetapi, demikian anak ketiga dari sepuluh bersaudara ini menuturkan, tidak begitu saja ia memperoleh izin membuat kamera dari Fuji. "Tak gampang membujuk Jepang," ujarnya. Semula, adalah mendiang ayahnya, Otje Honoris, membuka kios kecil di Pasar Baru, Jakarta, 1965. Ketika itu, kamera masih merupakan barang mewah dan langka.
Sang ayah, yang bermodalkan barang titipan, tidak cuma menunggu. Dikerahkannya seluruh keluarga, anak dan istri, mencari calon pembeli. Akhirnya, keluarga Honoris berhasil menguasai kemampuan menjual. Fuji merebut 70% pasaran film di Indonesia. Pada 1982, didirikannya PT Honoris Industry.
Kini, Honoris Industry, dengan yakin, menitikberatkan pemasaran produk kameranya ke luar negeri. "Menciptakan barang harus sekaligus membuka kemungkinan pasar," ujar sang presiden direktur. Kamera buatan Indonesia itu, Fujica MA-1, mulai unggul di pasar internasional.
Pada 1984, ekspornya mencapai 140 ribu unit, 58% jatuh di Prancis. Setahun kemudian, pabrik yang merupakan satu dari sepuluh perusahaan Modern Group ini mengeluarkan produk baru: Fuji DL-10. Selama ini telah dijual 500 ribu unit kamera ke 22 negara, termasuk Jepang -- negara asal Fuji.
Harga Fujica MA-1 Rp 20 ribu per unit. Sebulan bisa terjual sekitar 25 ribu unit. Sedangkan Fuji DL-10 harganya Rp 49.500. Menghadapi persaingan di luar negeri, "Kami membanting harga 30%," katanya. "Hal ini dimungkinkan karena subsidi dalam bentuk Sertifikat Ekspor (SE) yang 18%."
Dari 24 ribu kamera per tahun dengan nilai investasi Rp 500 juta tatkala pabrik ini didirikan, kini berkembang menjadi 400 ribu kamera per tahun dengan nilai investasi Rp 3,5 milyar. Pabrik ini menampung 200 karyawan, dan menggunakan 70% komponen lokal. Sisanya, antara lain lensa dan plastik, masih diimpor dari Jepang. "Kami berniat, pada 1987, pembuatan kamera sudah bisa menggunakan 100% komponen lokal," kata Samadikun Hartono, yang juga presiden direktur Modern Group.
|