
Nama : SOEMITRO
Lahir : Probolinggo, Jawa Timur, 13 Januari 1927
Agama : Islam
Pendidikan : - HIS
- MULO) Peta (1944)
- Seskoad, Bandung (1952)
- Sekolah Lanjutan Perwira II (1958)
- Advanced Course, Fort Benning, AS (1958)
- Sesko ABRI (1963)
- Fuhrungs Akademi der Bundeswehr, Hamburg, Jerman Barat (1965)
Karir : - Komandan Peleton Daidan Fukukan Probolinggo (1944)
- Ketua BKR Probolinggo (1945)
- Danton Yon I Probolinggo (1945-1947)
- Wadan Yon II Brigade I Divisi VIII/Brawijaya (1948)
- Komandan Militer Kota Malang (1948-1949)
- Asisten II Kodam VIII/Brawijaya (1952)
- Kepala Staf Resimen 18 Kodam VIII (1953-1954)
- Komandan Resimen 18 Kodam VIII (1955-1956)
- Dosen Seskoad (1956)
- Komandan Pusat Kesenjataan Infantri, Bandung (1959-1962)
- Ketua Dewan Perencana AD (1963)
- Pangdam IX/Mulawarman (1965)
- Asisten II Menpangad merangkap Pangdam VIII/Brawijaya (1965- 1966)
- Deputi Operasi Menpangad (1967-1969)
- Kastaf Hankam (1969-1970)
- Wakil Pangkopkamtib (1969-1970)
- Pangkopkamtib/Wapangab (1971-1974)
- Komisaris Utama Rigunas Group (1979-sekarang).
Alamat Rumah : Jalan Iskandarsyah II/87, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 732585
Alamat Kantor : Jalan Kemang Raya 8, Jakarta Selatan Telp: 797564
|
|
SOEMITRO
Sekali, pada 1985, Jenderal (purnawirawan) Soemitro ditanya wartawan: kalau diminta duduk lagi di pemerintahan, maunya di mana? "Saya tetap ingin jadi swasta. Kini sudah waktunya yang muda-muda," kata bekas Wapangab dan Pangkopkamtib, yang pernah dijuluki "orang nomor dua" di Indonesia. Jabatan "angker" itu diserahkannya pada 1974, setelah ia merasa "gagal" dengan meletusnya Peristiwa Malari.
Di bidang swasta pun ia tidak langsung terjun. Tawaran jabatan dubes di AS dari Pak Harto pun ditolaknya. Ia lalu "memindahkan pikirannya ke dengkul", dengan pengertian, katanya, "Setiap hari saya bermain golf, dari pukul sebelas sampai pukul tiga sore. Dengan cara ini saya tidak merasa perlu kehilangan apa-apa."
Baru enam tahun kemudian, ia mulai berwiraswasta. Dan kini, di bawah komisaris Rigunas Group itu tergabung setidaknya lima perusahaan, termasuk yang mengelola konsesi hutan: Rimba Guna Nusantara, Cakra Sudarma, Suma Corporation, Ria Sina Abadi, dan Rigunas Abadi. Dalam Inti Karya Persada Teknik, berpatungan dengan pengusaha Amerika, Soemitro duduk pula sebagai komisaris.
Namun, pemegang 11 tanda jasa itu tidak ingin melepaskan keterkaitan diri dengan perkembangan negerinya. Soemitro belakangan acap memberikan tanggapannya, diminta atau tidak, terhadap pertumbuhan politik dan ekonomi Indonesia dengan perspektif sampai di atas tahun 2000. Misalnya, pada tahun 2015, ia yakin akan tercipta poros TokyowCanberrawAsean. "Bahkan, menurut saya, ini bisa mengendalikan AS dan Uni Soviet," katanya.
Soemitro memulai karier militernya sejak masuk Sekolah Perwira Peta di zaman Jepang. Terlibat perang gerilya begitu pecahnya Revolusi Kemerdekaan, posisinya kian terangkat lewat berbagai pendidikan kemiliteran lanjutan: SSKAD, serta sekolah perwira di Fort Benning, AS, dan Fuhrung-Akademie der Bundesehr di Jerman Barat. Selepas menjadi Pangdam IX/Mulawarman dan Pangdam Dwikora di Kalimantan Timur, ia mulai meniti ke atas sejak menjabat Kepala Staf Harian Kopkamtib, 1966.
Soemitro tidak hanya pandai melihat jauh ke depan, tetapi juga ke belakang. Bekas perwira tinggi yang oleh seorang wartawan asing pernah disebut commander type -- karena bicaranya yang tegas dan wawasannya luas -- ini pada 1985 kembali ke kawasannya bergerilya di masa revolusi dahulu di Malang. Untuk Mbok Djo, yang rumahnya sering dipakai bersembunyi dari kejaran tentara Belanda, dibangunkannya sebuah rumah baru. Rumah Pak Ra'ib, yang pernah digunakan sebagai markas, diberinya aliran listrik.
Ia mencoba menurunkan berat badannya -- pernah 98 kg, lalu berkurang 20 kg -- dengan jogging sejauh 5 km, sedikitnya empat kali dalam seminggu. Kegemarannya yang lain? "Kalau dikerubuti cucu, saya paling senang," ujar Soemitro ayah lima anak.
|