
Nama : SOENARIO
Lahir : Madiun, Ja-Tim, 28 Agustus 1902
Agama : Islam
Pendidikan : - Lagere School, Madiun
- MULO, Madiun
- Rechtshogeschool, Jakarta
- Universitas Leiden, Belanda (1925)
Karir : - Advokat di Jakarta, Bandung, Medan, dan Makassar (1927- 1940)
- Ikut mendirikan Partai Nasional Indonesia (1927)
- Eksponen Sumpah Pemuda (1928)
- Kepala Redaksi Surat Kabar Sediotomo,Yogyakarta (1940)
- Pegawai Tinggi Departemen Kehakiman
- Anggota Badan Pekerja KNIP (1945)
- Ketua Seksi Luar Negeri DPRS (1950-1953)
- Menlu RI dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo (1953-1955)
- Dubes RI untuk Inggris (1956-1961)
- Guru Besar Luar Biasa UI, Jakarta (1961)
- Rektor Undip, Semarang
- Anggota Dewan Harian Nasional Angkatan 45
- Dosen Universitas Jayabaya
- Rektor Universitas Mertju Buana, Jakarta (1985 -- sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Raden Saleh 22, Jakarta Pusat Telp: 344871
|
|
SOENARIO
Tokoh politik tiga zaman ini masih tampak segar dan tegar ketika hadir dalam peringatan ke-30 Konperensi Asia Afrika (KAA) di Bandung. Padahal, usianya saat itu, 1985, sudah 83 tahun. "Rahasianya tidak ada. Kecuali saya selalu mempunyai semangat dan cita-cita dalam hidup ini," ujar Prof. Mr. Soenario, Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo, yang banyak berperan bagi terselenggaranya KAA di Bandung, 1955.
Karier politik anak wedana di zaman Belanda ini dimulai sebagai anggota Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda, tempat ia meraih gelar sarjana hukum pada Universitas Leiden. Kembali ke Indonesia, Soenario menjadi pengacara di Jakarta, Bandung, Medan, dan Ujungpandang. Pada 1927, bersama Bung Karno, ia turut mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Dalam masa pergerakan itu, ia salah seorang penganjur pembentukan suatu Negara Indonesia Merdeka yang berdasarkan kesatuan dan demokrasi. Ia juga eksponen lahirnya Sumpah Pemuda, 1928.
Di zaman pendudukan Jepang, Pak Nario -- panggilan akrabnya -- aktif memberikan pendidikan politik kepada kelompok pemuda di Menteng Raya 31, Jakarta. Semua kegiatan ini mengantarkan dia menjadi anggota BPKNIP, anggota DPRS, dan anggota delegasi RI ke Konperensi Meja Bundar (KMB). Saat menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Ali, ia mengambil inisiatif penghapusan Uni IndonesiawBelanda, dan mengajukan masalah Irian Barat (kini Irian Jaya) ke PBB.
Bekas guru besar Universitas Indonesia ini masih memberikan kuliah ilmu sosial politik pada Universitas Jayabaya, Jakarta. Ke kampus atau ke resepsi, ia menggunakan kendaraan umum, karena memang tidak memiliki mobil pribadi. Rumahnya di Jalan Raden Saleh, Jakarta, sudah tua. "Itulah milik saya satu- satunya sejak menjadi menlu," ujarnya.
Pak Nario tetap bangun pagi untuk melakukan olah raga jalan kaki.
Ia menikahi Dina Maranta Pantouw, wanita asal Minahasa, bekas anggota Joung Celebes dalam masa pergerakan. Ayah lima anak ini -- seorang di antaranya Astrid Susanto, ahli komunikasi -- masih acap menulis di media massa. Menjelang peringatan ulang tahun ke-40 Kemerdekaan RI, Agustus 1985, Soenario menerima Bintang Mahaputra Adipradana Kelas II dari pemerintah.
|