
Nama : Surya Dharma Paloh
Lahir : Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, 16 Juli 1951
Agama : Islam
Pendidikan : - SD (1962)
- SMP (1965)
- SMA (1968)
- Fakultas Sosial dan Politik Universitas Islam Sumatera Utara (1975)
Karir : - Manajer Travel Biro Seulawah Air Service, Medan (1968)
- Pimpinan Wisma Pariwisata, Medan (1972-1975)
- Presiden Direktur PT Ika Diesel Bros, Medan (1973)
- Kuasa Direksi Hotel Ika Daroy, Banda Aceh (1975)
- Direktur Link Up Coy, Singapura (1976-1977)
- Presiden Direktur PT Ika Mataram Coy, Jakarta (1975-sekarang)
- Presiden Direktur PT Indocater, Jakarta (1979-sekarang)
- Direktur Utama PT Sistem Media Nusantara (penerbit koran Prioritas), Jakarta (1985-1986)
- Pemimpin Umum harian Prioritas, Jakarta (1985-1986)
- Direktur Utama PT Vista Yama (Penerbit majalah Vista; 1988-1991)
- Direktur Utama PT Citra Media Nusa Purnama (Penerbit harian Media Indonesia; 1988-sekarang)
- Direktur Utama PT Surya Persindo, Jakarta (1989-sekarang)
- Komisaris Utama PT Surya Sahari Jaya, Jakarta (1992)
Kegiatan Lain : - Ketua Umum HIPMI Sumatera Utara (1974-1977)
- Ketua BPP HIPMI Pusat, Jakarta (1977-1979)
- Anggota MPR RI (1977-1982, 1982-1987)
- Ketua DPP AMPI (1984-1989)
- Ketua Dewan Pembina DPP AMPI (1989-sekarang)
Keluarga : Ayah : M. Daud Paloh (Alm.)
Ibu : Nursiah Paloh
Istri : Rosita Barack
Anak : Prananda Surya Paloh
Alamat Rumah : Jalan Permata Berlian R.20, Permata Hijau, Jakarta Selatan
Alamat Kantor : Gedung Media Indonesia, Kedoya, Jakarta Barat
|
|
Surya Paloh
Bicaranya ekspresif€”kadang sembari memukul meja, mengepal, atau mengembangkan tangan. Kemauannya pun keras. Sifat itu telah terlihat sejak putra Aceh ini masih belia. Dalam hubungan keluarga, dengan ayahnya, misalnya, anak keempat dari delapan bersaudara itu bersikap independen: tak mau didikte ayahnya.
Sang ayah, M. Daud Paloh (kini sudah almarhum), seorang kepala polisi distrik, mendukung sikap tersebut. Pun ayahnya tidak melarang ketika pada usia 14 tahun€”sewaktu dibawa ayahnya merantau ke daerah perkebunan Simalungun, Sumatera Utara. Waktu itu, ia berwirausaha sambil tetap bersekolah, dengan memasok sembilan bahan pokok ke sebuah perusahaan perkebunan. Keuntungan dari hasil penjualan pertama Rp 100 ribu. €œUang itu saya simpan sampai satu malam tidak bisa tidur, karena membayangkan betapa besar uang itu,€ kenang Surya.
Walau sibuk berbisnis, sekolahnya lancar, bahkan ia aktif berorganisasi. Ia pernah menjadi ketua Gerakan Pelajar Pancasila, ketua Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), dari tingkat kampung sampai nasional. Lulus SMP, ia melanjutkan SMA di Medan, dan saat itulah pertama kali ia berkenalan dengan pers. Di mingguan yang dimotori aktivis KAPPI, €œSaya melihat bagaimana mereka bekerja di keredaksian, membuat berita, mengantar prosesing ke percetakan,€ tuturnya.
Tiga tahun kemudian ia mencoba membuat surat kabar sendiri di Medan. Walau pada akhirnya gagal, harapan menerbitkan koran tidak pernah padam. Pun ketika ia hijrah ke Jakarta dengan menjadi anggota MPR pada usia 25 tahun. Setelah berkali-kali gagal meminta Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), akhirnya pada 1986 Surya mendapat SIUPP menerbitkan harian Prioritas. Cuma izin terbit itu disertai sejumlah perjanjian, antara lain porsi berita politik tidak boleh lebih besar dari berita ekonomi. €œKetika saya memulai bisnis ini, komunitas pers mencibir saya karena dianggap hanya berspekulasi dan dianggap orang baru,€ kata Surya.
Toh, Surya tak peduli dengan cibiran. Ketika Prioritas dibredel dan tak ada komunitas yang menangis, ia tak pun ambil pusing apalagi putus asa. €œSaya mencari penerbit baru, ternyata ada majalah Vista yang penerbitnya sudah capek,€ katanya. Telanjur dianggap sebagai pemberontak oleh rezim Orde Baru, namanya tak boleh tercantum di Vista. Bahkan wajahnya tak boleh muncul di TVRI. Hanya karena ukurannya kelebihan 2 sentimeter, Vista mendapat peringatan terakhir dari Departemen Penerangan.
Kemudian, bersama Eros Djarot dan Christine Hakim, Surya menerbitkan tabloid Detik, yang pada 1994 dibredel bersama Tempo dan Editor. €œKetika Tempo dibredel, semua menolak mempekerjakan wartawan Tempo, cuma Surya Paloh yang menerima mereka,€ ungkap Surya.
Ancaman pembredelan tak juga berhenti ketika Surya memimpin harian Media Indonesia, karena tidak disukai militer. Ia punya siasat: €œBagaimana saya harus memanfaatkan seni bermain mengayuh dua karang,€ tuturnya. Filosofinya: €œSaya dekat dengan penguasa untuk melindungi diri dari ancaman penguasa.€ Dan semua itu tantangan, yang menurut dia, bagaimana kita bisa merebut dan memanfaatkan kesempatan, dan berjalan menyongsong kesempatan yang baru.
Setelah melewati momentum yang berat, dan era represif Orde Baru telah berlalu, kini Surya Paloh berkibar dengan sejumlah perusahaan medianya, antara lain Media Indonesia dan televisi swasta Metro TV.
Di usia 50 tahun (2002) ini, ia berminat pensiun. €œSaya sebagai chief executive officer bisa pergi ke mana saja, karena sudah digerakkan oleh yang lain". Maksudnya para manajer profesional. €œIni saatnya berikhtiar untuk melanjutkan sumber daya manusia. Mereka harus menggantikan kepemimpinan saya dalam perusahaan yang saya miliki. Perusahaan ini tidak harus tenggelam ketika saya tidak memimpin lagi, ia harus jauh lebih baik,€ katanya.
|