
Nama : Sri Adiningsih
Lahir : Surakarta, Jawa Tengah, 11 Desember 1960
Agama : Islam
Pendidikan : - SD, SMP, SMA di Solo
- Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (S1, 1985)
- University of Illinois, Amerika Serikat (M.Sc. dalam bidang ekonomi, 1989)
- University of Illinois, Amerika Serikat (doktor bidang ekonomi, 1996)
Karir : - Dosen Fakultas Ekonomi UGM (1985-sekarang)
- Peneliti pada Pusat Studi Wanita UGM (1991-1992)
- Peneliti pada Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi, Universitas Gadjah Mada (1990-1992)
- Peneliti pada Penelitian Pengembangan Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada (1990-1992)
- Adviser pada Exim Securities (1997)
- Pengelola Program Pascasarjana Ekonomi, UGM (1996-2000)
- Dosen Pascasarjana Ekonomi dan Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universistas Gadjah Mada (1996-sekarang)
- Ketua Studi Restrukturisasi Perbankan (1999-sekarang)
- Penasihat independen Restrukturisasi Perbankan Indonesia (2000)
- Anggota Ombudsman IBRA (2000-sekarang)
- Kepala Divisi Ekonomi Pusat Studi Asia dan Pasifik Universitas Gadjah Mada (2001-sekarang)
- Staf Ahli Panitia Ad Hoc MPR (2001-sekarang)
- Anggota Tim Kerja dalam rangka kerja sama ekonomi Indonesia €“ Jepang (2002-sekarang)
Kegiatan Lain : - Anggota American Economic Association (1996-1998)
- Anggota Who's Who of The Asian Pasific Rim 1999-2000 International Edition Baron's Who's Who USA
Keluarga : Ayah : Daswadi (almarhum)
Ibu : Sri Lulut Daswadi
Suami : Kunta Setiaji
Anak : Stri Nariswari Setiaji
Alamat Rumah : Babadan RT II/101A, Gedongkuning, Yogyakarta
Telepon (0274) 583734
Alamat Kantor : Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Telepon (0274) 551208, 548510
|
|
Sri Adiningsih
Sewaktu kecil, ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini bercita-cita jadi dokter. €œKarena saya melihat dokter sebagai sosok yang serba bersih,€ kata Nining, panggilan akrab Sri Adiningsih. Tapi, dokter penuh dengan peraturan, sementara Nining --setelah menginjak dewasa-- pecinta kebebasan. €œSaya tidak suka peraturan yang mengikat,€ ujarnya.
Maka, meskipun selulus SMA jurusan fisika di Solo, sulung dari lima bersaudara ini diterima di fakultas kedokteran dan fakultas ekonomi --keduanya di UGM. Yang dipilihnya adalah yang disebut terakhir. Selain karena tidak menyukai keterikatan pada peraturan, Nining juga menerima masukan dari kakeknya, mantan anggota tentara Pembela Tanah Air (Peta) di zaman Jepang. Sang kakek mengingatkan tentang mendesaknya pembangunan ekonomi di negeri yang masih terkebelakang ini. Pilihan menjadi dosen, setelah lulus dari Fakultas Ekonomi, pun masih dengan alasan yang sama. €œSelain bisa mengembangkan diri, profesi dosen sangat fleksibel,€ ujar satu dari sedikit ekonom perempuan yang sering di ditanyai pendapatnya itu.
Studinya lancar-lancar saja, walau sejak kelas tiga SD, ayahnya sudah meninggal. Soalnya, papar Nining, €œIbu banting tulang untuk menghidupi keluarga.€ Sang ibu, Sri Lulut Daswadi, seorang wiraswastawati, termasuk €œkeras€ dalam mendidik agar seluruh anak mereka menjadi sarjana. Terbukti, tiga anaknya lulusan UGM dan seorang lainnya tamatan U Negeri Sebelas Maret (UNS).
Kuliah S1 Nining diselesaikan dalam waktu empat tahun lebih sedikit. Padahal ia juga sibuk di Senat Mahasiswa UGM, aktif di drumband, sambil mengikuti berbagai kursus. Studinya untuk meraih gelar master dan doktor di University of Illinois, Amerika Serikat, relatif cepat pula.
Kini Adiningsih cukup sibuk. Selain mengemban tugas utama sebagai dosen, ia juga meneliti, memenuhi permintaan penulisan kolom di media, membimbing penulisan skripsi anak didiknya, dan memberi ceramah. €œSaya tidak pernah menerima banyak undangan ceramah, karena takut mutunya menjadi kurang,€ kata mantan anggota American Economic Association ini.
Melayani wawancara dari wartawan media cetak dan elektronik, tak ayal, menjadikannya figur publik. €œPadahal saya tidak pernah bermimpi menjadi public figure. Saya ingin menjadi ekonom yang baik, berguna, bermanfaat. Juga supaya menjadi salah satu dosen yang dianggap baik oleh mahasiswa saya,€ Nining mengemukakan obsesinya.
Wajah perekonomian Indonesia memang terpuruk sekarang ini, namun di mata Sri Adiningsih, masih ada harapan pemulihan. €œKondisi ekonomi regional dan global semakin baik,€ katanya. Ia menunjuk proses yang tadinya diperkirakan akan berlangsung lama ternyata bisa dipulihkan dengan waktu yang relatif lebih cepat. Maka, baginya, ada alasan kestabilan ekonomi bisa terwujud.
Senang membaca di Perpustakaan Pusat UGM -- lantaran tempat kosnya selalu ramai -- ia bertemu dengan calon suami, Kunta Setiaji, dokter yang juga dosen di UGM. €œKami pacaran di perpustakaan,€ tutur Nining. Pada 1985, Nining menikah dan lima tahun kemudian pasangan ini dikaruniai satu anak, Stri Nariswari Setiaji. Nining begitu bangga pada putri semata wayangnya itu. Selain sering juara kelas, Stri juga pandai memanfaatkan waktu mengikuti berbagai kursus. €œPendidikan terbaik adalah prioritas kami yang utama,€ ujar Adiningsih.
|