
Nama : SETO MULYADI (KAK SETO)
Lahir : Klaten, Jawa Tengah, 28 Agustus 1951
Agama : Islam
Pendidikan : - SD Ngepos, Klaten (1963) SMK, Klaten (1966)
- SMA St. Louis, Surabaya (1969)
- Fakultas Psikologi UI, Jakarta (1981)
Karir : - Pengasuh kegiatan anak-anak
- Dosen di Universitas Tarumanegara (sekarang)
Kegiatan Lain : - Ketua Pelaksana Pembangunan Istana Anak-Anak Taman Mini Indonesia Indonesia (1983)
- Pendiri/Pimpinan Yayasan Nakula Sadewa (1984-sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Moh. Yamin 45, Jakarta Pusat Telp: 334339
Alamat Kantor : Universitas Tarumanegara Jalan S. Parman 1, Jakarta Barat Telp: 591747, 593003
|
|
SETO MULYADI (KAK SETO)
Datang ke Jakarta sebagai penganggur yang luntang-lantung, awal 1970-an, Seto terakhir mendapat kepercayaan Ibu Tien Soeharto untuk mengetuai pelaksanaan pembangunan Istana Anak- Anak di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Tetapi, sebelumnya, jalan yang ditempuhnya penuh liku.
Ia gagal menjadi mahasiswa kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Kemudian, dengan sekadar semangat, ia hijrah ke Jakarta. Melamar pekerjaan ke hotel-hotel, akhirnya ia malah menjadi tukang cuci dan pel suatu keluarga yang kebetulan mempunyai anak cacat. Seto, yang juga bertugas merawat anak tersebut, harus bersedia menempati "kamar" bekas kandang ayam yang berhadapan dengan WC. "Baunya minta ampun," ia mengenang.
Sebelum itu, Seto menumpang di garasi milik keluarga temannya, yang kebetulan ia kenal di kereta. Tidur beralaskan dua keset yang digabung, ia hidup sehari-hari dari penghasilan sebagai tukang batu, serta sesekali menulis di majalah Si Kuncung. Satu hal, kalau melihat orang lain mampu melakukan sesuatu, Seto selalu berpikir, "Ah, saya juga bisa." Dengan sikap demikian ia melamar untuk menjadi cantrik, semacam magang, pada Pak Kasur. Sebelumnya, Seto melihat kegairahan Pak Kasur mengasuh anak-anak di acara TVRI. Beberapa tahun kemudian, masih pada tahun 1970-an, Seto yakin bisa mendirikan sendiri kegiatan serupa. "Sebagai murid yang baik, harus mencoba melebihi guru," katanya.
Ilmu Pak Kasur ia gabungkan dengan kemahirannya bermain sulap, yang sudah ia pelajari sejak masih SD, melalui buku. Bujangan berkaca mata minus 2,25, dan pengagum Mahatma Gandhi serta Napoleon ini juga mendongeng untuk anak-anak, menyusuri lorong-lorong Jakarta. Teknik mendongeng, menurut pengakuannya, ia peroleh dari penulis dan penutur cerita anak-anak, Soekanto S.A., ditambah dengan pengalamannya sendiri.
"Generasi tahun 2000 adalah anak-anak di zaman kini," demikian alasannya mengapa ia betah menggeluti dunia anak-anak.
Rumah tinggal yang ia peroleh tidak ia nikmati sendiri. Sebagiannya dimanfaatkan untuk kepentingan anak-anak: ada ayunan, ada ruang kelas, kolam renang mini (3 .003 3 meter), dan sejumlah sarana bermain lainnya. Semua ruangan didekorasi dengan warna-warna yang ceria dan benar-benar membuat anak-anak merasa di alam fantasi mereka.
Seto lahir kembar, bersama dr. Kresna Mulyadi. Punya kakak seorang, yang menjadi anggota ABRI. Ketika masih kecil, "Saya ini bengal," katanya. Ayahnya, Mulyadi, meninggal ketika Seto berusia 14 tahun.
Setiap hari, di antara kesibukannya dalam kegiatan pendidikan anak-anak, Seto masih lari pagi di sekitar rumahnya, selama satu jam. "Dua tiga hari tidak lari, saya kehilangan keseimbangan, dan kurang fit," katanya.
|