
Nama : SUDIRO
Lahir : Yogyakarta, 24 April 1911
Agama : Islam
Pendidikan : - HIS (1925) dan Kweekschool (1928), Yogyakarta
- Hogere Kweekschool, Magelang (1931)
Karir : - Ketua Cabang Indonesia Muda Magelang (1929) dan Solo (1931)
- Direktur MULO (1931-1933) dan Ketua Umum Taman Siswa (1933- 1936), Madiun
- Kepala Sekolah HIS Bengkulu (1937-1940) dan Plaju (1940-1942)
- Pemimpin harian Jawa Hookokai (1944-1945)
- Wakil Pemimpin Umum Barisan Banteng RI (1945-1948)
- Anggota KNIP (1945-1947)
- Residen Solo (1947-1949) dan Madiun (1950-1951)
- Gubernur Sulawesi (1951-1953)
- Wali Kota, kemudian Gubernur Jakarta Raya (1953-1960)
- Anggota Konstituante (1957-1959)
- Anggota DPA (1978-1983)
- Ketua I, kemudian Ketua Umum, PWRI Pusat (1975-sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Teuku Umar 37, Jakarta Pusat Telp: 347726
344309
|
|
SUDIRO
Lantaran sakit ginjal, Pak Diro menjalani operasi di Negeri Belanda, 1984. "Sekarang saya sudah mulai sakit-sakitan," ujar Ketua Umum Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) ini. "Tak banyak kegiatan lagi." Namun, menjelang usia ke-75, semangatnya tetap tinggi: ia masih rajin menulis.
Sulung dari sebelas bersaudara, anak hoofdlaborant pabrik gula di Klaten, Jawa Tengah, ini dalam usia 14 tahun sudah anggota Jong Java. Masuk Indonesia Muda (IM), ia menjadi ketua cabang Magelang, 1929. Begitu lulus Hogere Kweekschool, ia aktif di Partindo, 1931. Di tahun itu, waktu membentuk IM cabang Solo, guru muda ini berkenalan dengan Sitti Djauhari, utusan dari Madiun. "Punya cita-cita sama, kami lantas menikah," katanya. Sang istri jadi bendahara II Partindo, dan Ketua Sarekat Penjual Jajan Indonesia (SPJJ) di Madiun.
Sudiro yang pada masa itu juga Ketua Taman Siswa, memimpin majalah Kebutuhan Rakyat, dan kemudian majalah Taufan. Sempat keluar masuk penjara Madiun akibat beberapa tulisannya. "Risiko orang pergerakan," tuturnya. "Malah cincin kawin kami gadaikan untuk biaya hidup."
Pada zaman Jepang, Sudiro bekerja di Pusat Jawa Hookookai, memimpin harian Barisan Pelopor. Awal masa Kemerdekaan, ia residen gerilya, mengkoordinasikan Solo-Semarang-Madiun-Pati. "Saat itu saya dimiliterkan," ceritanya, "menyandang pangkat letnan kolonel." Ketika Sulawesi belum dibagi empat provinsi, ia gubernur di sana. Pada 1953, Sudiro wali kota kemudian gubernur Jakarta Raya, dan pensiun tujuh tahun kemudian.
Ikut sibuk menyelenggarakan upacara Proklamasi 1945, ia mengatakan "Ada yang paling mengesankan". Dua hari setelah Proklamasi, ia 'mencuri' mobil kepala perhubungan Jepang. "Sopirnya saya beri Rp 300 agar segera menyingkir ke kampung," tuturnya. Mobil Buick berwarna hitam itu diberikannya kepada Bung Karno. "Iki, lho, Bung, kendaraan sing pantes kanggo presiden RI." Kini, mobil itu berada di Gedung Joang, Menteng Raya, Jakarta.
Hingga kini, ayah lima anak dengan sejumlah cucu dan dua cicit ini masih belum sepi dari berbagai kegiatan. Di PT Gunung Agung, yang menerbitkan autobiografinya, Sudiro Pejuang tanpa Henti, ia ketua Dewan Komisaris. "Meski banyak jabatan, tidak semua memberi honor," selorohnya.
Selaku Ketua Dewan Film, ia menerima hadiah H. Djamaluddin Malik, yang diserahkan Menteri Penerangan Harmoko, 1985.
|