
Nama : Said Aqiel Siradj
Lahir : Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, 3 Juli 1953
Agama : Islam
Pendidikan : - Madrasah Ibtidaiyah (SD), di Cirebon;
- Madrasah Tsanawiyah (SMP), di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur;
- Madrasah Aliyah (SMA), di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Barat (1980);
- Universitas Ummul Qura, Mekkah, Arab Saudi (1994)
Karir : - Dosen Pascasarjana Universitas Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta;
- Anggota MPR-RI dari Utusan Golongan;
- Khatib Aam (sekretaris umum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU);
- Anggota Komnas HAM
Kegiatan Lain : - Anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Peristiwa 12-14 Mei 1998;
- Penasihat Angkatan Muda Kristen Republik Indonesia;
- Salah satu pendiri Gerakan Keadilan dan Persatuan Bangsa
Keluarga : Ayah : K.H. Aqiel Siradj
Ibu : Hj. Afifah
Istri : Hj. Nurhayati
Anak : 1. Muhammad Said
2. Nisrin
3. Rihab
4. Aqil
Alamat Rumah : Jalan Warungsila No. 11 RT 02/05 Kompleks Masjid Al-Munawarah, Ciganjur, Jakarta Selatan
Alamat Kantor : Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat
|
|
Said Aqiel Siradj
Kesan konservatif, seperti umumnya para kiai di Indonesia, tak tersirat pada diri Said Aqiel Siradj. Sikap ulama asal Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, itu bisa dikatakan sangat moderat. Bahkan, ia cenderung kontroversial. Keberaniannya mempertanyakan kembali dasar-dasar penting yang telanjur baku dalam praktik kehidupan beragama umat Islam mengingatkan orang kepada apa yang pernah dilakukan pendahulunya, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan Nurcholish Madjid.
Atas keberanian sikapnya yang "kelewat batas" itu, Said Aqiel pernah dikafirkan oleh 12 orang kiai. Ada pula yang melayangkan surat ke almamaternya -- Universitas Ummul Qura, Mekkah -- meminta agar mencabut gelar doktornya. "Jangankan gelar doktor, gelar haji pun ambillah. Enggak usah digelari haji juga enggak apa-apa," tukasnya menanggapi serangkaian tudingan "miring" atas dirinya itu.
Tudingan "miring" itu bermula dari sejumlah sikapnya yang dinilai nyeleneh. Misalnya, ia menjalin persahabatan yang begitu erat dengan tokoh-tokoh nonmuslim, seperti Romo Mangunwijaya (almarhum), Romo Mudji Sutrisno, dan Romo Sandyawan Sumardi. Ia juga tercatat sebagai salah satu penasihat Angkatan Muda Kristen Republik Indonesia.
Lalu, minatnya terhadap masalah kebangsaan dan hak asasi manusia juga tercermin dari keberadaannya sebagai salah satu pendiri Gerakan Keadilan dan Persatuan Bangsa, bersama tokoh-tokoh seperti Siswono Yudohusodo dan Sarwono Kusumaatmadja. Selain itu, ia juga bergabung dalam Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Peristiwa Kerusuhan 12-14 Mei 1998.
Menurut Said Aqiel, serangkaian sepak terjangnya itu bukan tanpa alasan. Ia hanya ingin menunjukkan tiga hal penting yang seharusnya menjadi dasar penghayatan agama oleh setiap orang: toleran, moderat, dan akomodatif. "Islam yang benar itu, ya, moderat, toleran, dan akomodatif," tandas kiai yang senantiasa berpenampilan sederhana itu.
Dibesarkan di lingkungan pesantren, ia ahli tasawuf ini asli Cirebon. Ayahnya, Kiai Aqiel Siradj, adalah seorang ulama bersahaja yang memiliki pondok pesantren kecil di Desa Kempeg, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Pesantren itu kini dikelola oleh saudara-saudara K.H. Said Aqiel Siradj dan menampung sekitar seribu murid.
Said Aqiel menamatkan pendidikan madrasah ibtidaiyah (setingkat sekolah dasar) di kampung halamannya. Masa pendidikan pesantren setingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas dihabiskannya di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Pada 1980, didampingi istrinya (Nurhayati), ia melanjutkan studi dengan beasiwa di Tanah Suci Mekkah, Arab Saudi. Hidup di perantauan dilaluinya hingga 1994, dengan oleh-oleh gelar doktor bidang Ushuluddin (ilmu perbandingan agama) dari Universitas Ummul Qura, Mekkah. Dan di Mekkah pula keempat buah hatinya lahir.
Meski dikenal sebagai intelektual yang kritis, Said Aqiel ternyata mempunyai sense of humour yang lumayan tinggi. Suatu hari, ia bercerita tentang kekonyolan penyeragaman yang dilakukan Gubernur Jawa Tengah Soewardi melalui program kuningisasi menjelang dan selama Pemilihan Umum 1997. "Saat itu, jangankan trotoar serta pagar, bedug mesjid, bahkan hewan kurban yang hendak dipotong pada Idul Adha pun harus dicat kuning," tuturnya. "Itu kan konyol," tambah kiai yang juga mengajar di Universitas Islam Malang dan Perguruan Tinggi Ilmu Quran, Jakarta, itu.
|