A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Sujiwo Tejo




Nama :
Agus Hadi Sujiwo

Lahir :
Jember, Jawa Timur, 1962

Agama :
Islam

Pendidikan :
- SDN Kecamatan Mangaran (1974)
- SMPN Kec. Asem Bagus (1977)
- SMAN Situbondo (1980)
- ITB Jurusan Matematika (sarjana muda)
- ITB Jurusan Teknik Sipil (tidak lulus)


Karir :
Pernah jadi wartawan Kompas; dalang, pemusik antara lain membuat album Pada Sebuah Ranjang (1999) dan Pada Suatu Ketika (2000), penulis kolom dan esai, aktor

Karya :
Karya Buku : Dalang Edan (2002)

Keluarga :
Ayah : Soetedjo Ibu : Soelastri Istri : Rosa Nurbaiti Anak : 1. Rembulan Randu Dahlia 2. Kennya Rizki Rionce 3. Jagat

 

Sujiwo Tejo


Yang pasti, Sujiwo Tejo seorang dalang €œedan€, yang suka melanggar pakem. Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar. Ia menghindari pola hitam putih. Ini sangat berbeda dengan cerita pewayangan seperti yang ada dalam Mahabarata atau Ramayana. Tapi justru karena itu, pria bernama asli Agus Hadi Sujiwo ini optimistis bahwa wayang bisa disukai anak-anak muda. Dengan wayang mbeling-nya, Tejo mendalang di banyak tempat, bahkan di rumah Gus Dur dan Mega, serta di Keraton Mangkunegaran, Solo.

Tetapi sayang, ayahnya, Soetejo, wedana yang juga dalang kondang di Karesidenan Besuki, Jawa Timur, tak suka cara anak kelima dari enam bersaudara ini mendalang. Pada pergelaran wayang di acara perkawinan peragawati Ratih Sanggarwati di Ngawi, Jawa Timur, sang ayah€”yang jauh-jauh datang dari Situbondo€”memarahi Tejo habis-habisan.

Apa pun, Tejo belajar mendalang dengan tidak sengaja. Sejak sekolah dasar, lelaki kelahiran Jember yang dibesarkan di Situbondo, Jawa Timur, ini membantu ayahnya. Dari menggelar pertunjukan wayang sampai sekadar berlatih. Tugasnya menggelar tikar dan menyiapkan gamelan untuk latihan pada Senin dan Kamis, menjemput pesinden, menancapkan wayang.

€œSemuanya aku lakukan dengan terpaksa, karena aku takut sama bapak,€ tuturnya. Bahkan, ketika SMP dan SMA, ia malu bila teman-teman sekolahnya, yang hobinya main musik blues, datang di saat Tejo sedang berlatih gamelan. €œAku malu banget main gamelan,€ ujarnya.

Pernah suatu ketika, Tejo ngambek. Ia bukannya membantu ayahnya mendalang, malah pacaran. Ini membuat sang ayah marah-marah. €œAku minggat, jam aku gadein,€ kenangnya. Dari hasil penjualannnya, ia bisa hidup seminggu, dengan tidur di stasiun atau di masjid. Ayahnya mencarinya ke mana-mana.

Menginjak tahun ketiga kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), barulah ia jatuh cinta pada wayang dan gamelan. Begitu mendengar siaran radio Jawa pada suatu malam, ia tersadar bahwa karawitan itu rumit, gamelan itu memiliki struktur yang luar biasa. Seniornya di ITB, Iskandar Sumowiloto, mengajarinya bermain gamelan dan mendalang. €œKarena fondasi sudah aku miliki, enggak sampai seminggu aku sudah bisa,€ tuturnya. Sejak itu, ia pun mendalang.

Cara Iskandar mendalang membuat Tejo optimistis. Beda dengan cara mendalang sang ayahnya, ia melihat bahwa bagi Iskandar, Pandawa tidak selalu benar, Rahwana malah baik, Sinta menjadi sangat manusiawi. Tejo jadi yakin wayang bisa disenangi anak muda, karena tidak hitam putih lagi. €œItu yang sekarang aku bawain di Global Jaya, di sekolah-sekolah,€ ujarnya. Sewaktu ulang tahun PDI sebelum kerusuhan 27 Juli, Tejo mendalang disaksikan Megawati, ketua umum PDIP yang kemudian jadi presiden. Betapa senang hati Tejo, Iskandar bersedia datang ikut menyaksikannya.

Karena mendalang dengan cara berbeda itulah, katanya, €œAku sering disebut dalang edan. Ya, risikonya itu.€ Walau begitu, ia tetap diundang dalam pertemuan Persatuan Pedalangan Indonesia. Ia juga diminta berbicara di depan banyak orang, antara lain di Museum Wayang. Pengagum dalang Ki Gondo Darman (almarhum) ini percaya tetap ada masa depan untuk orang-orang yang berbeda pendapat.

Tetapi sebagaimana yang berlaku pada dalang tradisional, Tejo tak bisa meninggalkan puasa sebelum pentas. Ia biasanya puasa tiga hari. Ia juga mensyaratkan penanggap untuk ikut berpuasa, termasuk kepada Megawati, Ratih Sanggarwati, dan budayawan Goenawan Mohamad.

Mendalang, bagi Tejo, bukan cuma berarti memainkan wayang. Sejak mahasiswa hingga kini ia juga menulis esai, kolom, dan belakangan menulis buku dan drama musikal; membuat album, berbicara di kampus-kampus. Ia juga main film, antara lain di film Telegram arahan sutradara Slamet Rahardjo Djarot. Semua itu, baginya bagian dari mendalang. €œYang namanya pedalangan itu terdiri dari nyanyi, sastra, gamelan, teater; makanya aku ngajar teater juga,€ tutur pengidola tokoh Semar ini.

Tejo banyak belajar dari kehidupan: menapak dari bawah sampai seperti sekarang, ceritanya tentang kesuksesannya. Pada 2001 lalu, ia terpilih sebagai nomine Generasi Biang tahun itu. Cuma, bagi dia, tolok ukur kesuksesannya adalah bila musiknya didengar dan banyak orang terilhami. €œAku merasa belum ke situ. Yang aku bayangkan, semua orang punya kebanggaan diri, punya optimisme terhadap musik kita.€

Ia bertemu dengan calon istri, Rosa Nurbaiti, kala menjaga ujian di Institut Teknologi Nasional, Bandung, tempat Rosa kuliah. Menikah pada 1989, dengan mas kawin: pertunjukan! Ini sempat ditolak oleh beberapa kiai, karena mas kawin harus benda. Maka, ia punya akal: pertunjukan berjudul Belok Kiri Jalan Terus tetap dilakukan tapi lalu dipotret, albumnya dijadikan mas kawin. Dari perkawinan itu, pasangan ini dikaruniai tiga anak. Si bungsu, Jagat, tampaknya menyukai gamelan dan suka menonton wayang sampai dini hari, di saat kakak-kakaknya sudah tidur.

Satu hal yang pasti, Tejo hobi main layang-layang dan memelihara burung perkutut. Soal penampilan, Tejo suka yang santai, biasa pakai sarung, pakai sandal. Rambut dibiarkan panjang, sejak kuliah.

Satu hal yang pasti, marah atau tidak, matanya tetap saja melotot. Memang dari sononya!

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


SETIJADI | S. BAGIO | S. SARTONO | SABAM PANDAPOTAN SIAGIAN | SABAM SIRAIT | SABDONO SUROHADIKUSUMO | SADJIRUN | SADOSO SUMOSARDJUNO | SAHIRUL ALIM | SAIFUL SULUN | SAL MURGIYANTO | SALAMUN ALFIAN TJAKRADIWIRJA | SALEH AFIFF | SAMADIKUN HARTONO | SAYIDIMAN SURYOHADIPROJO | SETIJATI SASTRAPRADJA | SETO MULYADI (KAK SETO) | SIDARTA ILYAS | SIGIT HARJOJUDANTO | SUDJATMIKO | SINDUDARSONO SUDJOJONO | SELO SOEMARDJAN | SINGGIH DIRGAGUNARSA | SJAHRIAL DJALIL | SINTONG PANJAITAN | SJAMSUL NURSALIM | SJARNOEBI SAID | SISWONO JUDO HUSODO | SLAMET RAHARDJO | SITORESMI PRABUNINGRAT | SLAMET SAROJO | SOEDIGDO Pringgoprawiro | SOEDJATMOKO | SOEBRONTO Laras | SOEDJONO HOEMARDANI | SOEGARDA POERBAKAWATJA | SOEGENG Sarjadi | SOEDARPO SASTROSATOMO | SOEMITRO | SOEHARTO | SOENARIO | SOEKARDI | SOERJANTO POESPOWARDOJO | SOERJONO SOEKANTO | SOERJOSOEMARNO | SOEROSO HADISUWARNO PRAWIROHARDJO | SOFJAN ALISJAHBANA | SOFJAN WANANDI | SORIE ENDA NASUTION | SUBUR BUDHISANTOSO | SUBUR RAHARDJA | SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX | SRIKANDI HAKIM TALIB | SUDHARMONO | SUBAGIO Sastrowardojo | SUDIRO | Said Aqiel Siradj | Saifullah Yusuf | Salim Said | Sangkot Marzuki | Sapardi Djoko Damono | Seno Gumira Ajidarma | Setiawan Djody | Seto Mulyadi | Shanti L. Poesposoetjipto | Siti Hartati Murdaya | Soedradjad Djiwandono | Sri Adiningsih | Sri Sultan Hamengkubuwono X | Sujiwo Tejo | Sukyatno Nugroho | Sumita Tobing | Sundari Soekotjo | Surya Paloh | Suryopratomo | Susilo Bambang Yudhoyono | Sukanto Tanoto


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq