
Nama : SUBUR BUDHISANTOSO
Lahir : Garut, Jawa Barat, 27 Agustus 1937
Agama : Islam
Pendidikan : - SD, Solo (1950)
- SMP (1953)
- dan SMA (1957), Bandung
- FS UI (Sarjana, 1962
- Doktor, 1977)
Karir : - Ketua Jurusan Antropologi FS UI (1977-1983)
- Pembina Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah (1978-sekarang)
- Pembina Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional (1979-sekarang)
- Direktur Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional (1980- sekarang)
- Anggota Kelompok Kerja Wanhankamnas (1980-sekarang)
- Pengajar Pusat Latihan dan Penelitian Agama, Departemen Agama (1982-sekarang)
- Pembina Proyek Pembinaan Kesadaran dan Penjernihan Sejarah, dan - Proyek Pengembangan Nilai Budaya (1984-sekarang)
- Pembina Proyek Javanologi (1984-sekarang)
Kegiatan Lain : - Ketua Umum Asosiasi Antropologi Indonesia (1984- sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Tebet Barat Raya 50, Jakarta Selatan
Alamat Kantor : Jalan Cilacap 4, Jakarta Pusat
|
|
SUBUR BUDHISANTOSO
Direktur Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen P & K ini menilai bahwa upacara-upacara tradisional saat ini tidak lagi dihayati sebagaimana mestinya. "Mereka lupa pada symbolic action dan symbolic meaning dari upacara itu," katanya. Ia mengambil contoh pada kecenderungan orang mengadakan pesta pernikahan secara besar-besaran, meniru raja-raja zaman dahulu. "Tapi begitu tiba pada acara menginjak telur, telur itu ada dalam kantung plastik. Pengantin perempuan pura-pura mencuci kaki pengantin pria. Itu 'kan hanya sandiwara," tuturnya.
Ia mengaku bercita-cita menjadi dokter ketika kecil, karena ayahnya seorang paramedis, sedang ibunya aktif di PMI. Tetapi, gurunya di SMA, Iie Abdulrachim, mengajarkan etnologi (ilmu tentang bangsa-bangsa) dengan sangat menarik. Kebetulan, Universitas Indonesia baru membuka Jurusan Antropologi ketika ia baru tamat dari SMA tahun 1957. "Di dalam daftar mata kuliah tercantum antropologi fisik yang erat hubungannya dengan kedokteran. Saya memutuskan untuk kuliah di Antropologi." Kini, yang membuatnya betah sebagai antropolog, "karena sering tugas ke berbagai daerah," katanya.Spesialisasinya ekonomi antropologi. Disertasinya yang berjudul Keluarga Matrifokal: Suatu Studi Kasus pada Masyarakat Desa di Cibuaya, membuatnya menjadi doktor ilmu antropologi dari Universitas Indonesia pada tahun 1977. Di sini, Budhi melihat betapa pentingnya peran wanita di dalam ekonomi keluarga, terutama pada masyarakat pedesaan. Dominasi wanita dalam keluarga besar sekali. Wanitalah yang mengatur pembelanjaan rumah tangga, sehingga terjadi ungkapan: padi di sawah milik laki-laki, padi di rumah atau lumbung milik wanita.
Tentang pelestarian kebudayaan yang sering didengungkan, anak kedua dari tiga bersaudara ini menilai bahwa penanamannya sangat bergantung pada keluarga. "Ketika saya kecil, Nenek dan Kakek sering mendongeng. Ini memindahkan nilai-nilai. Tetapi, anak sekarang tidak bisa menghayati kebudayaan itu karena mereka tidak pernah diberi tahu. Akibatnya, mereka mencari sendiri, sehingga timbul hal-hal yang negatif," ujarnya.
Ayah tiga anak ini menggemari lagu-lagu sentimental.
|