
Nama : SIDARTA ILYAS
Lahir : Bandung, 3 April 1936
Agama : Islam
Pendidikan : - SD, Kotagadang (1948)
- SMP, Jakarta (1952)
- SMA Budi Utomo, Jakarta (1955)
- FK UI, Jakarta (1962)
- Pendidikan Ahli Mata FK UI di Jakarta (1966)
- Bedah Anterior Segmen Mata (Kornea, Lensa) (1968)
Karir : - Pembina Seksi Teknis Mata Bank Mata DKI (1976)
- Ketua Seksi Teknis Bank Mata Pusat (1982-sekarang)
- Dokter Ahli Mata di RSCM (1966-sekarang)
- Dosen Penyakit Mata FK UI (1966-sekarang)
Kegiatan Lain : Ketua Persatuan Dokter Ahli Mata DKI (1978-1980)
Karya : Karya tulis penting:
- Atlas Mata, Temprint, 1980
- Sari Ilmu Penyakit Mata, Balai Penerbit FK UI, 1982
- Dasar Teknik Pemeriksaan Mata, Balai Penerbit FK UI, 1983
- Ilmu Penyakit Mata, Universitas Press Surabaya, 1984
- Kedaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata, Penerbit FK UI, 1985
Alamat Rumah : Jalan Yusuf Adiwinata 7, Jakarta Pusat Telp: 351846
Alamat Kantor : FK UI Jalan Salemba Raya 6, Jakarta Pusat Telp: 334378
|
|
SIDARTA ILYAS
Dengan menjadi dokter, ia berharap akan hidup nyaman. Membuka praktek di rumah, hidup penuh ketenangan, itu yang selalu ia angankan, ketika masih di SMA. Maka, setelah lulus (1955), Sidarta Ilyas masuk FK UI.
Ternyata, setelah menjadi dokter, ia tidak bisa hidup tenang. "Profesi ini menuntut kerja keras," katanya. Di Poliklinik Mata RSCM, dalam sehari ia bisa didatangi 250 pasien. Sore hari, ia juga buka praktek pribadi, di Jalan Mangga Besar, Jakarta. "Tetapi, pukul tujuh malam saya sudah tidak menerima pasien lagi. Letih," katanya.
"Bagi saya, mata adalah indria yang sangat agung. Karena dengan mata kita dapat menyaksikan keindahan alam ini," kata Sidarta, menceritakan alasannya mengambil spesialisasi mata, setelah lulus sebagai dokter, 1962. Sampai awal 1985 Sidarta sudah berhasil mencangkokkan 300 kornea.
Dalam proses pencangkokan, yang dimanfaatkan hanya selaput bening dari mata donor. Jaringan selebihnya disimpan untuk tujuan penelitian. Untuk tujuan yang sama pula, selaput bening penderita (yang telah tergantikan) yang keruh disimpan. Dari sini diharapkan bisa ditemukan hal-hal baru penyebab suatu penyakit mata. "Saya punya koleksi mata di rumah," tutur Sidarta suatu hari, di ruang kerjanya di RSCM Jakarta.Sejak 1976 Sidarta adalah pembina seksi teknis Bank Mata DKI. Untuk periode 1982-1986, ia juga Ketua Seksi Teknis Bank Mata Pusat. Pernah pula menjadi Ketua Perdami (Persatuan Dokter Ahli Mata Indonesia), Jakarta (1978-1980).
Dalam kedudukannya sebagai tokoh Bank Mata, Sidarta mengungkapkan adanya kegairahan baru anak-anak muda untuk menjadi donor mata. "Bahkan saya pernah menerima telepon dari seorang anak muda yang menanyakan, jaringan apa lagi dari tubuhnya yang dapat disumbangkan, setelah matanya, kalau ia meninggal nanti," tutur Sidarta. "Sungguh saya terharu. Karena pikiran seperti itu, dahulu, tidak pernah terjadi."
Sudah ada beberapa buku yang pernah ia hasilkan. Di antaranya Atlas Mata (1980), Sari Ilmu Penyakit Mata (1982), dan Dasar Teknik Pemeriksaan Mata (1983). Ia kontributor khusus soal mata, untuk Ensiklopedi Indonesia.
Nama Ilyas di belakang namanya adalah penggalan dari nama ayahnya, Ilyas Sutan Pamenang, seorang guru SMA yang berasal dari Sumatera Barat. Sidarta anak keempat dari lima bersaudara. Lelaki yang mengenakan kaca mata baca ini menikah 15 November 1958, dengan Gustiah -- teman dekatnya sejak SMA. Pasangan ini dikaruniai empat anak.
|