
Nama : SUBUR RAHARDJA
Lahir : Bogor, Jawa Barat, 4 April 1925 (pn 1986)
Agama : Katolik
Pendidikan : MULO, Bogor (1940)
Karir : Guru silat dan pendiri perguruan silat Bangau Putih (1952-1986)
Alamat Rumah : Jalan Kebon Jukut 1, Bogor
|
|
SUBUR RAHARDJA
Sebut saja "Suhu", orang akan tahu yang dimaksud Subur Rahardja, pendiri perguruan silat Persatuan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih, yang kini menyebar ke berbagai negara: Amerika, Jerman, Australia, Inggris, dan Prancis, antara lain.
"Sejak berumur enam tahun saya sudah diajari dasar ilmu silat," kata Subur menunjuk paman dan gurunya, Lim Kim Bouw. Lim Sin Tjoei -- demikian nama asalnya -- memang keturunan keluarga pesilat, yang sekaligus ahli obat-obatan tradisional. Setelah belajar pada banyak guru serta berbagai macam aliran, seperti pada Tjong Kun Wie, H. Dulhamid, dan Gusti Agung Bagus Jelantik Bale Wangsa, jadilah dia pesilat yang mapan.
Hari-harinya di Lebak Pasar Bogor dihabiskan untuk mengolah jurus-jurus baru temuannya. Bangau lalu dipilih sebagai lambangnya. "Gerakan bangau luwes, tapi keras. Tidak pernah mencari musuh, tenang, dan hidup damai." Falsafah itu diharapkan muncul lewat jurus-jurus "bangau mengitari sarang", "bangau menangkap ikan", "tongkat pengukur benua", sampai jurus tanpa nama. Bila lelah berlatih, Suhu mendendangkan lagu-lagu keroncong kesenangannya. Malah, dulu, ia sempat memimpin Orkes Keroncong "Suara Asmara".Ketekunannya memang membawa hasil. Setelah lebih dari empat windu, sejak 17 Desember 1952, tak terhitung lagi jumlah murid PGB Bangau Putih. Pengacara Adnan Buyung Nasution, dan penyair Rendra termasuk adalah muridnya.
Pada masa kecilnya, Suhu juga terbilang nakal. Ayahnya tidak melarang ia berkelahi, asal tidak menangis. Gurunya, Bagus Jelantik, pun tertawa kesal melihat tingkah Subur berlatih. Sering ia sengaja mencipratkan air ke punggung, dan mendekatkan tubuhnya pada lampu cempor, supaya kelihatan berkeringat. "Agar latihan cepat selesai," ucapnya. Lalu, pergi beramai- ramai menonton pertunjukan.
Kini, didampingi istrinya, Louis Ansberry, Suhu menyambut tamunya dengan menangkupkan kedua tapak tangan ala pendeta Kuil Shaolin. Selain bersilat, setiap hari Subur melakukan meditasi, dan latihan pernapasan. Hasilnya, dalam usia lebih dari 60 tahun, dan tidur kurang dari empat jam sehari, tidak sesaat pun ia tampak loyo.
Kesederhanaannya juga menonjol. Kaus putih dan celana putih memenuhi lemari pakaiannya. Merokok? Hanya kadang-kadang. Terutama bila sedang diwawancarai. "Untuk menghindari pandangan mata lawan bicara," katanya.
|