Nama : MASAGUS Nur Muhammad Hasjim Ning
Lahir : Nipah, Padang, Sumatera Barat, 22 Agustus 1916
Agama : Islam
Pendidikan : - SD Adabiah, Padang (1929)
- MULO, Padang (1933)
- Kursus Pembukuan A 7 B, Jakarta (1952)
- Universitas Islam Sumatera Utara (Doktor HC, 1963)
Karir : - Presiden Direktur PT Djakarta Motor Company (1950-1953)
- Presiden Direktur (1953-1960), kemudian Presiden Komisaris (1960-1984) dan Komisaris (1984-sekarang) PT IRMC, Jakarta
- Presiden Direktur PT Indonesian Service Company (1954-1972)
- Presiden Komisaris PT Bank Perniagaan Indonesia (1966- sekarang)
- Presiden Direktur PT Pacto (1970-sekarang)
- Presiden Direktur Nings and Associates (1974-sekarang) Kegiatan lain: Ketua Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) (1970)
- Anggota Pengurus Yayasan Muslim Pancasila (1977-sekarang)
- Ketua Umum Kadin Indonesia (1979-1982)
Alamat Rumah : Jalan Cikini Raya 24, Jakarta Pusat Telp: 334551 dan 341435
|
|
MASAGUS Nur Muhammad Hasjim Ning
Ketika datang untuk mengadu nasib di Jakarta, 1937, ia sempat menjadi tukang cuci mobil. Tetapi, dua tahun kemudian, ia sudah ditunjuk sebagai perwakilan NV Velodrome Motorcars di Tanjungkarang, Lampung. Setelah itu, jadi pemborong tambang batu bara di Tanjung Enim, 1941. Hasyim Ning kembali lagi ke Jawa, menjadi administratur perkebunan teh dan kina di Cianjur, ketika pecah Perang.
Karena bercita-cita menjadi tentara -- walau tidak direstui orangtua -- ia pun ikut mengangkat senjata di Cianjur, Bandung Selatan, bersama Alex Kawilarang, 1945. Lima tahun kemudian, ia pensiun dengan pangkat terakhir letnan kolonel.
Hasyim lalu berdagang mobil, mendirikan Djakarta Motor Company. Usaha itu berkembang menjadi usaha perakitan mobil yang pertama di Indonesia, Indonesian Service Station, tiga tahun kemudian. Hasyim Ning sebagai Presiden Direkturnya.
Ia kemudian memang lebih banyak dikenal sebagai pengusaha perakitan mobil, meski juga bergerak dalam berbagai bidang: ekspor-impor, bank, biro perjalanan, pabrik kosmetik, serta konsultan rekayasa yang menyerap tidak kurang dari 3.000 karyawan.Pada awal 1984, Hasyim diwawancarai majalah Prancis, Paris Match. Di sana ia mengatakan, bisnis perakitan mobil di Indonesia tidak terlalu cerah, lantaran persaingan dengan Jepang. Mobil-mobil yang dirakitnya memang buatan Eropa dan Amerika. "Perusahaan Eropa dan Amerika mengikuti birokrasi, sedangkan Jepang langsung memperkenalkan jenis-jenis mobil mereka," katanya.
Sukses usahanya menyebabkan Hasyim dipercayai memangku jabatan Ketua Umum Kadin, 1979-1982. Tentang hasil yang sudah dinikmatinya, ia hanya berkata, "Cuma kaya jiwa dan nama, masih banyak yang lebih multi jutawan daripada saya." Hasyim kecil mendapat pendidikan cukup keras dari orangtuanya. Usai sekolah ia harus mengaji, dengan guru yang dipanggil ke rumah. Kini ia mencontoh cara itu untuk mendidik anak-anaknya.
Pengusaha yang mendapat gelar Dr.H.C. untuk Ilmu Manajemen dari Universitas Islam Sumatera Utara ini pernah giat berpolitik. Tahun 1971 ia menjabat Ketua Umum IPKI, kemudian ikut melahirkan fusi PDI. Tahun 1978 ia mengundurkan diri dari PDI, dan menjelang Pemilu 1982 menyeberang ke Golkar.
Istrinya yang sekarang, Ratna Maida, adalah yang ketiga. Nama sang istri diabadikan pada nama yacht miliknya yang ditambat di pantai Marina, Ancol, Jakarta. Dengan yacht warna putih itu, penggemar golf ini sering memancing bersama keluarga. Ayah lima anak ini juga menyenangi musik klasik.
|