Nama : MOCHAMMAD ARSYAD ANWAR
Lahir : Kuningan, Jawa Barat, 6 Maret 1936
Agama : Islam
Pendidikan : - SD, Cirebon
- SMP, Cirebon
- SMA, Cirebon (1955)
- Fakultas Teknik UI Bandung (tidak selesai 1957)
- Fakultas Ekonomi UI, Jakarta (1962)
- Business Administration University of California, Berkeley, AS (M.B.A., 1966)
- Fakultas Ekonomi UI (Doktor, 1983)
Karir : - Guru SMP Muhammadiyah Jakarta (1956-1958)
- Asisten Dosen Fakultas Ekonomi UI (1959)
- Bank Indonesia (1959)
- Deputi Ekonomi Moneter & Perdagangan Internasional Bappenas (1967-1968)
- Bekerja di Lembaga Penyelidikan Ekonomi & Masyarakat (LPEM) UI (1969 -- sekarang)
- Peneliti Australian National University (1978)
- Pembantu Dekan Bidang Akademi/Koordinator Pascasarjana Ekonomi -- Fakultas Ekonomi UI
- Anggota Dewan Riset Nasional
- Lektor Kepala FE UI (sekarang)
- Wakil Direktur LPEM UI (sekarang)
Kegiatan Lain : - Dosen Tamu Lemhanas
- Konsultan Biro Pusat Statistik (BPS)
Alamat Rumah : Jalan Daksinapati Timur C/18, Jakarta Timur Telp: 482449
Alamat Kantor : Jalan Salemba Raya 4, Jakarta Pusat Telp: 883401
|
|
MOCHAMMAD ARSYAD ANWAR
Gelar doktor ekonomi (1983) diraih Arsjad dengan summa cum laude -- yudisium "dengan pujian tinggi" yang baru pertama kali diberikan oleh UI. Namun, pujian tambahan masih datang, termasuk dari Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo dan Prof. Dr. Mohamad Sadli. "Saudara lebih pandai dari saya," ujar Sadli, salah seorang penyanggah.
Sumitro, promotor merangkap penyanggah, memuji Arsjad "telah menemukan hal baru, yang mengembangkan teori ekonomi, yaitu kaitan langsung antara ekspor dan tabungan dalam negeri." Prof. Emil Salim, yang sependapat dengan Sumitro, merasa perlu penerjemahan ke dalam bahasa Inggris disertasi promovendus yang berjudul Pertumbuhan Pertanian Dilihat dari Pertumbuhan Produk Domestik Bruto di Indonesia.
Untuk menyusun disertasi itu, Arsjad, yang lahir di Kuningan, Jawa Barat, menekuni puluhan buku. Menggabungkannya dengan pernyataan sejumlah ahli ekonomi, ia lalu menghubungkan dengan penjelasan Simon Kuznets, ekonom pemenang Hadiah Nobel. Dari sanalah ia menjelaskan, antara lain, "Peningkatan produksi dan atau kenaikan harga hasil pertambangan menyebabkan meningkatnya ekspor sebagai kapasitas impor ... yang akan mendorong naiknya tabungan domestik bruto dan produk domestik bruto (PDB). Pada gilirannya, itu berarti menurunnya pengeluaran konsumsi swasta dalam PDB."Piatu sejak umur enam tahun, Arsjad sudah mencoba mandiri pada usia dini. Ketika ayahnya menikah lagi, ia diasuh neneknya, dan sejak SMP tinggal di rumah indekos. Dan mulai saat itu, "Saya senang berjalan tanpa didorong-dorong dari belakang," katanya.
Pada 1955, Arsjad masuk Jurusan Teknologi Kimia, Fakultas Teknik UI (sekarang ITB) di Bandung. Lama-lama ia bosan, karena tiap hari harus berkubang di laboratorium. Ia lalu pergi ke Jakarta, dan mengajar Ilmu Pasti & Alam, di SMP Muhammadiyah, sambil ikut kursus tertulis yang diselenggarakan sebuah bank. "Lama-lama saya kok jadi tertarik pada ekonomi," katanya.
Pada saat itulah, 1957, seorang teman mengajak Arsjad masuk Fakultas Ekonomi UI. Karena rapornya bagus, Arsjad langsung diterima. Tiap tahun naik tingkat, dua tahun kemudian ia meraih gelar sarjana muda, dan diangkat sebagai asisten dosen di fakultasnya sendiri. Ia pun berhenti mengajar di SMP. Gelar sarjana penuh diraihnya dalam waktu lima tahun.
Setelah itu, Arsjad Anwar bekerja di Bank Indonesia. Tetapi hanya 45 hari. Dengan bantuan Prof. Widjojo Nitisastro, ia dikirim ke AS untuk mengambil gelar M.B.A. -- bidang yang sebenarnya kurang disukainya. "Saya lebih suka ekonomi makro," ujarnya.
Kembali ke Indonesia, 1967, ia masih keras berhasrat meraih gelar doktor. Oleh Prof. Ali Wardhana, Arsjad dianjurkan mengambil tema perencanaan ekonomi dan economic matric. Saat itu pula Prof. Widjojo menariknya ke Bappenas, disusul Dr. Saleh Afiff yang memintanya bergabung dengan Lembaga Penyelidikan Ekonomi & Masyarakat (LPEM) UI. Tawaran meneliti juga datang dari Departemen Perdagangan dan Prof. Sumitro. Pada 1978, Arsjad menjadi peneliti Australian National University (ANU) di Canberra.
Kini, Pembantu Dekan Bidang Akademi & Koordinator Pasca- Sarjana FE UI itu juga menjadi ahli senior -- dengan jabatan wakil direktur -- LPEM UI, dan anggota Dewan Riset Nasional. Dr. M. Arsjad Anwar acap diminta pendapatnya tentang berbagai kebijaksanaan ekonomi dan pembangunan.
Profesinya mengharuskan Arsjad banyak membaca. Minggu adalah hari keluarga baginya. Kebetulan, ia memiliki 5.000 meter tanah di kawasan Puncak, Jawa Barat, tempat ia melampiaskan kegemarannya bercocok tanam. "Kalau pensiun, mungkin saya akan tinggal di sana. Sambil menulis karya ilmiah," ujar pengagum Sumitro dan Widjojo ini. Arsjad senang makan buah-buahan, terutama mangga dan tomat.
|